Tampilkan postingan dengan label FisikaLingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FisikaLingkungan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Oktober 2019
Rabu, 16 Oktober 2019
Artikel GLOBAL WARMING (PEMANASAN GLOBAL)
PEMANASAN GLOBAL:
Dampak dan Upaya Meminimalisasinya
Pemanasan global (global warming) adalah suatu bentuk ketidakseimbangan
ekosistem di bumi akibat terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut,
dan daratan di bumi. Selama kurang lebih seratus tahun terakhir, suhu rata-rata di
permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C. Meningkatnya suhu rata-rata
permukaan bumi yang terjadi adalah akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca,
seperti; karbondioksida, metana, dinitro oksida, hidrofluorokarbon, perfluorokarbon,
dan sulfur heksafluorida di atmosfer. Emisi ini terutama dihasilkan dari proses
pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta akibat
penggundulan dan pembakaran hutan.
Pemanasan global diperkirakan telah menyebabkan perubahan-perubahan
sistem terhadap ekosistem di bumi, antara lain; perubahan iklim yang ekstrim,
mencairnya es sehingga permukaan air laut naik, serta perubahan jumlah dan pola
presipitasi. Adanya perubahan sistem dalam ekosistem ini telah memberi dampak
pada kehidupan di bumi seperti terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan
punahnya berbagai jenis hewan.
Efek rumah kaca sebagai suatu sistem di bumi sangat dibutuhkan oleh
makhluk hidup di bumi. Suhu atmosfer bumi akan menjadi lebih dingin jika tanpa
efek rumah kaca. Tetapi, jika efek rumah kaca berlebihan dibandingkan dengan
kondisi normalnya maka sistem tersebut akan bersifat merusak. Melihat sebagian
besar emisi gas rumah kaca bersumber dari aktivitas hidup manusia, maka pemanasan
global harus ada upaya solusinya dengan merubah pola hidup dan perilaku
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini diharapkan dapat memberi wawasan dan pengetahuan bagi
masyarakat tentang apa dan bagaimana terjadinya pemanasan global, serta bagaimana
perilaku masyarakat yang diharapkan dalam upaya meminimalisasi efek terjadinya
pemanasan global.
Pemanasan Global
Pemanasan global (global warming) menjadi salah satu isu lingkungan utama
yang dihadapi dunia saat ini. Pemanasan global berhubungann dengan proses
meningkatnya RPeningkatan suhu permukaan bumi ini
dihasilkan oleh adanya radiasi sinar matahari menuju ke atmosfer bumi, kemudian
sebagian sinar ini berubah menjadi energi panas dalam bentuk sinar infra merah
diserap oleh udara dan permukaan bumi.
Sebagian sinar infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer dan ditangkap
oleh gas-gas rumah kaca yang kemudian menyebabkan suhu bumi meningkat. Gasgas rumah kaca terutama berupa karbon dioksida, metana dan nitrogen oksida.
Kontribusi besar yang mengakibatkan akumulasi gas-gas kimia ini di atmosfir adalah
aktivitas manusia. Temperatur global rata-rata setiap tahun dan lima tahunan tampak
meningkat, seperti pada diagram berikut (Anonim, 2004).
Penyebab Pemanasan Global
Efek rumah kaca
Proses terjadinya efek rumah kaca dapat dijelaskan melalui gambar berikut.
Dalam rumah kaca (greenhouse) yang digunakan dalam budidaya terutama di negara
yang mengalami musim salju, atau percobaan tanaman dalam bidang biologi dan
pertanian, energi matahari (panas) yang masuk melalui atap kaca sebagian dipantulkan keluar atmosfer dan sebagian lainnya terperangkap di dalam greenhouse
sehingga menaikkan suhu di dalamnya. Gambar berikut menunjukkan bagaimana
terjadinya efek rumah kaca (Gealson,2007).
Contoh lain yang dapat mengilustrasikan kejadian efek rumah kaca adalah, ketika kita
berada dalam mobil dengan kaca tertutup yang sedang parkir di bawah terik matahari.
Panas yang masuk melalui kaca mobil, sebagian dipantulkan kembali ke luar melalui
kaca tetapi sebagian lainnya terperangkap di dalam ruang mobil. Akibatnya suhu di
dalam ruang lebih tinggi (panas) daripada di luarnya (Gealson,2007).
Matahari merupakan sumber energi utama dari setiap sumber energi yang
terdapat di bumi. Energi matahari sebagian terbesar dalam bentuk radiasi gelombang
pendek, termasuk cahaya tampak. Energi ini mengenai permukaan bumi dan berubah
dari cahaya menjadi panas. Permukaan bumi kemudian menyerap sebagian panas
sehingga menghangatkan bumi, dan sebagian dipantulkannya kembali ke luar
angkasa. Menumpuknya jumlah gas rumah kaca seperti uap air, karbon dioksida, dan
metana di atmosfer mengakibatkan sebagian dari panas ini dalam bentuk radiasi infra
merah tetap terperangkap di atmosfer bumi, kemudian gas-gas ini menyerap dan
memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan oleh permukaan bumi.
Akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Kondisi ini dapat
terjadi berulang sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gambar berikut menunjukkan bagaimana terjadinya pemanasan global (Gealson,2007).
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca pada atap rumah kaca. Makin
meningkat konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, makin besar pula efek panas yang
terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada
di bumi, karena tanpa efek rumah kaca planet bumi akan menjadi sangat dingin lebih
kurang -18°C, sehingga sekuruh permukaan bumi akan tertutup lapiesan es. Dengan
temperatur rata-rata sebesar 15°C, bumi sebenarnya telah lebih panas 33°C dengan
efek rumah kaca. Akan tetapi jika gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, maka
akan terjadi sebaliknya dan mengakibatkan pemanasan global.
Efek balik
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses efek balik
yang dihasilkannya, seperti pada penguapan air. Pada awalnya pemanasan akan lebih
meningkatkan banyaknya uap air di atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas
rumah kaca, maka pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di
udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Keadaan ini
menyebabkan efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh
akibat gas CO2 itu sendiri. Peristiwa efek balik ini dapat meningkatkan kandungan air
absolut di udara, namun kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak
menurun karena udara menjadi menghangat. Karena usia CO2 yang panjang di
atmosfer maka efek balik ini secara perlahan dapat dibalikkan (Soden and Held,
2005).
Selain penguapan, awan diduga menjadi efek balik. Radiasi infra merah akan
dipantulkan kembali ke bumi oleh awan, sehingga akan meningkatkan efek
pemanasan. Sementara awan tersebut akan memantulkan pula sinar Matahari dan
radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Secara
detail hal ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam
model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan
Pandangan IPCC ke 4). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada
peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif
(menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan
Pandangan IPCC ke Empat (Soden and Held, 2005).
Efek balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan
cahaya oleh es. Lapisan es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan
yang terus meningkat ketika temperatur global meningkat. Bersamaan dengan
mencairnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Daratan maupun
air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan
dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Kejadian ini
akan menambah faktor penyebab pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es
yang mencair, sehingga menjadi suatu siklus yang berkelanjutan (Thomas, 2001).
Faktor lain yang memiliki kontribusi terhadap pemanasan global adalah efek
balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku
(permafrost). Selain itu, es yang mencair juga akan melepas CH4 yang juga dapat
menimbulkan umpan balik positif.
Laut memiliki kemampuan ekologis untuk menyerap karbon di atmosfer.
Fitoplankton mampu menyerap karbon guna kelangsungan proses fotosintesis. Tetapi
kemampuan ini akan berkurang jika laut menghangat yang diakibatkan oleh
menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan
diatom daripada fitoplankton (Buesseler, et al, 2007).
Variasi matahari
Pemanasan global dapat pula diakibatkan oleh variasi matahari. Suatu
hipotesis menyatakan bahwa variasi dari Matahari yang diperkuat oleh umpan balik
dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini (Marsh and Henrik,
2000). Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca
adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer, sebaliknya efek
rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah
paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas
Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. Penipisan lapisan ozon juga
dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai
akhir tahun 1970-an. Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas
gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri
hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950 (Hegerl, et al. 2007,
Ammann, et al, 2007).
Hasil penelitian menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah
diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University
mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50%
peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-
35% antara tahun 1980 dan 2000 (Scafetta and West, 2006). Selanjutnya menurut Stott (2003) bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi
berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh
Matahari, mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik
dan aerosol sulfat juga tidak diperhitungkan. Walaupun demikian, mereka
menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap
pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekadedekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 menurut
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagian besar disebabkan oleh
meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C antara tahun 1990 dan 2100.
Dengan menggunakan model iklim, perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh
penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa
mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian
besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka
air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun
tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas
dari lautan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan
serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke
daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia
mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau
membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi
yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani
dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas
rumah kaca.
Protokol ini mengharuskan negara-negara industri untuk menurunkan
emisinya sebesar 5,2 persen di bawah tingkat emisi tahun 1990 dengan target waktu
hingga 2012 dan baru memperoleh kekuatan hukumnya secara internasional pada
tanggal 16 Februari 2005. Hingga 23 Oktober 2007 sudah 179 negara yang
meratifikasi Protokol Kyoto tersebut. Kemudian pada tanggal 3-14 Desember 2007 di
Bali diselenggarakanlah Konvensi Tingkat Tinggi yang digelar oleh UNFCCC
(United Nations Framework Convention on Climate Change) dan dihadiri hampir 10
ribu orang dari 185 negara. Melalui pertemuan tersebut diharapkan dapat
mengevaluasi hasil kinerja dari Protokol Kyoto yang dibuat sebagai bukti komitmen
negara-negara sedunia dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca demi
menanggulangi permasalahan yang terjadi saat ini.
Dampak Pemanasan Global
Pemanasan global telah memicu terjadinya sejumlah konsekuensi yang
merugikan baik terhadap lingkungan maupun setiap aspek kehidupan manusia.
Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Mencairnya lapisan es di kutub Utara dan Selatan. Peristiwa ini mengakibatkan
naiknya permukaan air laut secara global, hal ini dapat mengakibatkan sejumlah
pulau-pulau kecil tenggelam. Kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir
terancam. Permukiman penduduk dilanda banjir rob akibat air pasang yang tinggi,
dan ini berakibat kerusakan fasilitas sosial dan ekonomi. Jika ini terjadi terus
menerus maka akibatnya dapat mengancam sendi kehidupan masyarakat.
2. Meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Perubahan iklim
menyebabkan musim sulit diprediksi. Petani tidak dapat memprediksi perkiraan
musim tanam akibat musim yang juga tidak menentu. Akibat musim tanam yang
sulit diprediksi dan musim penghujan yang tidak menentu maka musim produksi
panen juga demikian. Hal ini berdampak pada masalah penyediaan pangan bagi
penduduk, kelaparan, lapangan kerja bahkan menimbulkan kriminal akibat
tekanan tuntutan hidup.
3. Punahnya berbagai jenis fauna. Flora dan fauna memiliki batas toleransi terhadap
suhu, kelembaban, kadar air dan sumber makanan. Kenaikan suhu global
menyebabkan terganggunya siklus air, kelembaban udara dan berdampak pada
pertumbuhan tumbuhan sehingga menghambat laju produktivitas primer. Kondisi
ini pun memberikan pengaruh habitat dan kehidupan fauna.
4. Habitat hewan berubah akibat perubahan faktor-faktor suhu, kelembaban dan
produktivitas primer sehingga sejumlah hewan melakukan migrasi untuk
menemukan habitat baru yang sesuai. Migrasi burung akan berubah disebabkan
perubahan musim, arah dan kecepatan angin, arus laut (yang membawa nutrien
dan migrasi ikan).
5. Peningkatan muka air laut, air pasang dan musim hujan yang tidak menentu
menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.
6. Ketinggian gunung-gunung tinggi berkurang akibat mencairnya es pada
puncaknya.
7. Perubahan tekanan udara, suhu, kecepatan dan arah angin menyebabkan
terjadinya perubahan arus laut. Hal ini dapat berpegaruh pada migrasi ikan,
sehingga memberi dampak pada hasil perikanan tangkap.
8. Berubahnya habitat memungkinkan terjadinya perubahan terhadap resistensi
kehidupan larva dan masa pertumbuhan organisme tertentu, kondisi ini tidak
menutup kemungkinan adanya pertumbuhan dan resistensi organisme penyebab
penyakit tropis. Jenis-jenis larva yang berubah resistensinya terhadap perubahan
musim dapat meningkatkan penyebaran organisme ini lebih luas. Ini
menimbulkan wabah penyakit yang dianggap baru.
9. Mengancam kerusakan terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang yang
ada di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Kepulauan Salomon, Papua Nugini, Timor Leste, dan Philipina. Dikhawatirkan merusak kehidupan
masyarakat lokal yang berada di sekitarnya. Masyarakat lokal yang pertama kali
menjadi korban akibat kerusakan terumbu karang ini. Untuk menyelamatkan
kerusakan terumbu karang akibat pemanasan global ini, maka para aktivis
lingkungan dari enam negara tersebut telah merancang protokol adaptasi
penyelamatan terumbu karang. Lebih dari 50 persen spesies terumbu karang
dunia hidup berada di kawasan segitiga ini. Berdasarkan data Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC), sebanyak 30 persen terumbu karang dunia telah
mati akibat badai el nino pada 1998 lalu. Diprediksi, pada 10 tahun ke depan akan
kembali terjadi kerusakan sebanyak 30 persen.
Meminimalisasi Dampak Pemanasan Global
1. Konservasi lingkungan, dengan melakukan penanaman pohon dan penghijauan di
lahan-lahan kritis. Tumbuhan hijau memiliki peran dalam proses fotosintesis,
dalam proses ini tumbuhan memerlukan karbondioksida dan menghasilkan
oksigen. Akumulasi gas-gas karbon di atmosfer dapat dikurangi.
2. Menggunakan energi yang bersumber dari energi alternatif guna mengurangi
penggunaan energi bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Emisi gas
karbon yang terakumulasi ke atmosfer banyak dihasilkan oleh pembakaran bahan
bakar fosil. Kita mengenal bahwa paling banyak mesin-mesin kendaraan dan
industri digerakkan oleh mesin yang menggunakan bahan bakar ini. Karena itu
diupayakan sumber energi lain yang aman dari emisi gas-gas ini, misalnya;
menggunakan energi matahari, air, angin, dan bioenergy. Di daerah tropis yang
kaya akan energi matahari diharapkan muncul teknologi yang mampu
menggunakan energi ini, misalnya dengan mobil tenaga surya, listrik tenaga
surya. Sekarang ini sedang dikembangkan bioenergy, antara lain biji tanaman
jarak (Jathropa. sp) yang menghasilkan minyak.
3. Daur ulang dan efisiensi energi. Penggunaan minyak tanah untuk menyalakan
kompor di rumah, menghasilkan asap dan jelaga yang mengandung karbon.
Karena itu sebaiknya diganti dengan gas. Biogas menjadi hal yang baik dan perlu
dikembangkan, misalnya dari sampah organik.
4. Upaya pendidikan kepada masyarakat luas dengan memberikan pemahaman dan
penerapan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Dimensi manusia
Manusia berperan sebagai pengguna-perusak-pelestari alam. Manusia harus
diberi kesadaran akan pentingnya alam bagi kehidupannya. Alam memiliki
keterbatasan dibanding kemampuan manusia dalam mengeksploatasi alam.
Manusia memanfaatkan alam guna memperoleh sumber makanan dan
kebutuhan sosial lainnya, tetapi disadari atau tidak tindakannya dapat
berakibat kerusakan faktor-faktor ekologis. Karena itu manusia harus
menyadari bahwa ia dan perilakunya adalah bagian dari alam dan lingkungan
yang saling mempengaruhi.
b) Penegakan hukum dan keteladanan
Pelanggaran atas tindakan manusia yang merusak lingkungan harus mendapat
ganjaran. Penegakan hukum lingkungan menjadi bagian yang penting guna
menjaga kelestarian lingkungan, dan memberi efek jera bagi yang melanggar.
Penegakan hukum tidak memandang strata sosial masyarakat. Selain itu
adalah panutan dan ketokohan seseorang memegang peranan penting. Mereka
yang memiliki pemahaman yang lebih baik (berpendidikan) terhadap
lingkungan hidup hendaknya berperan memberi contoh dan sikap lingkungan
yang baik pula kepada masyarakat. Misalnya, kita masih menemukan kasus
peran beberapa aparat pemerintah dibalik kerusakan hutan, baik dengan
memberikan modal maupun perlindungan bagi perambah hutan.
c) Keterpaduan
Seluruh elemen masyarakat harus mendukung upaya pelestarian lingkungan
dan sumberdaya alam serta penegakan hukumnya. Upaya ini harus dilakukan
secara komprehensif dan lintas sektor. Misalnya, untuk mengatasi emisi gasgas rumah kaca akibat peningkatan jumlah kendaraan di Kota Jakarta, harus
di atas secara bersama dengan daerah sekitar seperti Bogor, Depok, Bekasi,
dan Tangerang. Karena pekerja yang menggunakan kendaraan bermotor
setiap hari masuk ke kota Jakarta bermukim di empat kota tersebut. Demikian
halnya mengatasi banjir di Kota Gorontalo, misalnya, tidak dapat diatasi
dengan perbaikan fasilitas lingkungan dan membina kesadaran penduduk
kota, tetapi secara menyeluruh dengan masyarakat di wilayah lain (hulu dan
DAS) yang memberi kontribusi terhadap bencana banjir. Masyarakat dan
pemerintah daerah terdekat seperti Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten
Gorontalo turut bertanggungjawab dalam upaya penanggulangan banjir di
Kota Gorontalo. Secara geografis, terdapat daerah aliran sungai dimana dua
sungai besar yang melewati dan bermuara di kota ini. Karena itu bencana
alam dan kerusakan lingkungan tidak dapat dipilah menurut wilayah
administratif semata, tetapi bersifat area geografis-ekologis.
d) Mengubah pola pikir dan sikap
Faktor-faktor lingkungan fisik, mahluk hidup lain dan manusia memiliki
peran masing-masing dalam lingkungan hidup. Manusia sebagai mahluk yang
diberi kemampuan logika harus mampu memandang kepentingan hidupnya
terkait dengan kehidupan mahluk hidup lain beserta kejadian proses-proses
alam. Sikap dan perilaku manusia terhadap alam cepat atau lambat memberi
berdampak pada lingkungan hidupnya. Peduli terhadap lingkungan pada
dasarnya merupakan sikap dan perilaku bawaan manusia. Akan tetapi
munculnya ketidak pedulian manusia adalah pikiran atau persepsi yang
berbeda-beda ketika manusia berhadapan dengan masalah lingkungan.
Manusia harus memandang bahwa dirinya adalah bagian dari unsur ekosistem
dan lingkungannya. Naluri untuk mempertahankan hidup akan memberi
motivasi bagi manusia untuk melestarikan ekosistem dan lingkungannya.
e) Etika lingkungan
Kecintaan dan kearifan kita terhadap lingkungan menjadi filosofi kita tentang
lingkungan hidup. Apa pun pemahaman kita tentang lingkungan hidup dan
sumber daya, kita harus bersikap dan berperilaku arif dalam kehidupan.
Dalam wujud budaya tradisional, kearifan lokal melahirkan etika dan norma
kehidupan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam dan
lingkungannya. Selama masyarakat masih menghormati budaya tradisional
yang memiliki etika dan nilai moral terhadap lingkungan alamnya, maka
konservasi sumber daya alam dan lingkungan menjadi hal yang mutlak.
Dalam kehidupan masyarakat demikian, etika lingkungan tidak tampak secara
teoretik tetapi menjadi pola hidup dan budaya yang dipelihara oleh setiap
generasi. Etika lingkungan akan berdaya guna jika muncul dalam tindakan
nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Rujukan
Ammann, Caspar, et al. (2007). "Solar influence on climate during the past
millennium: Results from ransient simulations with the NCAR Climate
Simulation Model". Proceedings of the National Academy of Sciences of the
United States of America 104 (10): 3713-3718.
Anonimous, 2004. Temperatur Rata-rata Global 1860 sampai 2000. tersedia dalam
http//id.wikipedia.org/wiki. Pemanasan_Global#search column-one
Buesseler, K.O., C.H. Lamborg, P.W. Boyd, P.J. Lam, T.W. Trull, R.R. Bidigare,
J.K.B. Bishop, K.L. Casciotti, F. Dehairs, M. Elskens, M. Honda, D.M. Karl,
D.A. Siegel, M.W. Silver, D.K. Steinberg, J. Valdes, B. Van Mooy, S.
Wilson. (2007) "Revisiting carbon flux through the ocean's twilight zone."
Science 316: 567-570.
Climate Change 2001:Working Group I: The Scientific Basis (Fig. 2.12). URL
diakses pada 11-11-2008
Gleason, Karen K., Simon Karecki, and Rafael Reif (2007). Climate Classroom;
What’s up with global warming?, National Wildlife Federation. URL diakses
22-01-2008
Hegerl, Gabriele C. et al. Understanding and Attributing Climate Change. Climate
Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I
to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 10-
11-2008
Marsh, Nigel, Henrik, Svensmark (2000). "Cosmic Rays, Clouds, and Climate" Space
Science Reviews 94: 215-230. URL diakses pada 11-11-2008.
Scafetta, Nicola, West, Bruce J. (2006). "Phenomenological solar contribution to the
1900-2000 global surface warming". Geophysical Research Letters 33 (5).
URL diakses pada 10-11-2008.
Soden, Brian J., Held, Isacc M. (2005). "An Assessment of Climate Feedbacks in
Coupled Ocean-Atmosphere Models". Journal of Climate 19(14). URL
diakses pada 10-11-2008.
Stocker, Thomas F.; et al. Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis.
Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on
Climate Change. URL diakses pada 11-11-2008
Stott, Peter A., et al. (2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to
Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): URL diakses pada 10-
11-2008.
Summary for Policymakers. Climate Change 2007: The Physical Sciences Basis,
Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on
Climate Change. URL diakses pada 10-11-2008
Dampak dan Upaya Meminimalisasinya
Pemanasan global (global warming) adalah suatu bentuk ketidakseimbangan
ekosistem di bumi akibat terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut,
dan daratan di bumi. Selama kurang lebih seratus tahun terakhir, suhu rata-rata di
permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C. Meningkatnya suhu rata-rata
permukaan bumi yang terjadi adalah akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca,
seperti; karbondioksida, metana, dinitro oksida, hidrofluorokarbon, perfluorokarbon,
dan sulfur heksafluorida di atmosfer. Emisi ini terutama dihasilkan dari proses
pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta akibat
penggundulan dan pembakaran hutan.
Pemanasan global diperkirakan telah menyebabkan perubahan-perubahan
sistem terhadap ekosistem di bumi, antara lain; perubahan iklim yang ekstrim,
mencairnya es sehingga permukaan air laut naik, serta perubahan jumlah dan pola
presipitasi. Adanya perubahan sistem dalam ekosistem ini telah memberi dampak
pada kehidupan di bumi seperti terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan
punahnya berbagai jenis hewan.
Efek rumah kaca sebagai suatu sistem di bumi sangat dibutuhkan oleh
makhluk hidup di bumi. Suhu atmosfer bumi akan menjadi lebih dingin jika tanpa
efek rumah kaca. Tetapi, jika efek rumah kaca berlebihan dibandingkan dengan
kondisi normalnya maka sistem tersebut akan bersifat merusak. Melihat sebagian
besar emisi gas rumah kaca bersumber dari aktivitas hidup manusia, maka pemanasan
global harus ada upaya solusinya dengan merubah pola hidup dan perilaku
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini diharapkan dapat memberi wawasan dan pengetahuan bagi
masyarakat tentang apa dan bagaimana terjadinya pemanasan global, serta bagaimana
perilaku masyarakat yang diharapkan dalam upaya meminimalisasi efek terjadinya
pemanasan global.
Pemanasan Global
Pemanasan global (global warming) menjadi salah satu isu lingkungan utama
yang dihadapi dunia saat ini. Pemanasan global berhubungann dengan proses
meningkatnya RPeningkatan suhu permukaan bumi ini
dihasilkan oleh adanya radiasi sinar matahari menuju ke atmosfer bumi, kemudian
sebagian sinar ini berubah menjadi energi panas dalam bentuk sinar infra merah
diserap oleh udara dan permukaan bumi.
Sebagian sinar infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer dan ditangkap
oleh gas-gas rumah kaca yang kemudian menyebabkan suhu bumi meningkat. Gasgas rumah kaca terutama berupa karbon dioksida, metana dan nitrogen oksida.
Kontribusi besar yang mengakibatkan akumulasi gas-gas kimia ini di atmosfir adalah
aktivitas manusia. Temperatur global rata-rata setiap tahun dan lima tahunan tampak
meningkat, seperti pada diagram berikut (Anonim, 2004).
Penyebab Pemanasan Global
Efek rumah kaca
Proses terjadinya efek rumah kaca dapat dijelaskan melalui gambar berikut.
Dalam rumah kaca (greenhouse) yang digunakan dalam budidaya terutama di negara
yang mengalami musim salju, atau percobaan tanaman dalam bidang biologi dan
pertanian, energi matahari (panas) yang masuk melalui atap kaca sebagian dipantulkan keluar atmosfer dan sebagian lainnya terperangkap di dalam greenhouse
sehingga menaikkan suhu di dalamnya. Gambar berikut menunjukkan bagaimana
terjadinya efek rumah kaca (Gealson,2007).
Contoh lain yang dapat mengilustrasikan kejadian efek rumah kaca adalah, ketika kita
berada dalam mobil dengan kaca tertutup yang sedang parkir di bawah terik matahari.
Panas yang masuk melalui kaca mobil, sebagian dipantulkan kembali ke luar melalui
kaca tetapi sebagian lainnya terperangkap di dalam ruang mobil. Akibatnya suhu di
dalam ruang lebih tinggi (panas) daripada di luarnya (Gealson,2007).
Matahari merupakan sumber energi utama dari setiap sumber energi yang
terdapat di bumi. Energi matahari sebagian terbesar dalam bentuk radiasi gelombang
pendek, termasuk cahaya tampak. Energi ini mengenai permukaan bumi dan berubah
dari cahaya menjadi panas. Permukaan bumi kemudian menyerap sebagian panas
sehingga menghangatkan bumi, dan sebagian dipantulkannya kembali ke luar
angkasa. Menumpuknya jumlah gas rumah kaca seperti uap air, karbon dioksida, dan
metana di atmosfer mengakibatkan sebagian dari panas ini dalam bentuk radiasi infra
merah tetap terperangkap di atmosfer bumi, kemudian gas-gas ini menyerap dan
memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan oleh permukaan bumi.
Akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Kondisi ini dapat
terjadi berulang sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gambar berikut menunjukkan bagaimana terjadinya pemanasan global (Gealson,2007).
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca pada atap rumah kaca. Makin
meningkat konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, makin besar pula efek panas yang
terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada
di bumi, karena tanpa efek rumah kaca planet bumi akan menjadi sangat dingin lebih
kurang -18°C, sehingga sekuruh permukaan bumi akan tertutup lapiesan es. Dengan
temperatur rata-rata sebesar 15°C, bumi sebenarnya telah lebih panas 33°C dengan
efek rumah kaca. Akan tetapi jika gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, maka
akan terjadi sebaliknya dan mengakibatkan pemanasan global.
Efek balik
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses efek balik
yang dihasilkannya, seperti pada penguapan air. Pada awalnya pemanasan akan lebih
meningkatkan banyaknya uap air di atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas
rumah kaca, maka pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di
udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Keadaan ini
menyebabkan efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh
akibat gas CO2 itu sendiri. Peristiwa efek balik ini dapat meningkatkan kandungan air
absolut di udara, namun kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak
menurun karena udara menjadi menghangat. Karena usia CO2 yang panjang di
atmosfer maka efek balik ini secara perlahan dapat dibalikkan (Soden and Held,
2005).
Selain penguapan, awan diduga menjadi efek balik. Radiasi infra merah akan
dipantulkan kembali ke bumi oleh awan, sehingga akan meningkatkan efek
pemanasan. Sementara awan tersebut akan memantulkan pula sinar Matahari dan
radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Secara
detail hal ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam
model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan
Pandangan IPCC ke 4). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada
peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif
(menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan
Pandangan IPCC ke Empat (Soden and Held, 2005).
Efek balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan
cahaya oleh es. Lapisan es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan
yang terus meningkat ketika temperatur global meningkat. Bersamaan dengan
mencairnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Daratan maupun
air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan
dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Kejadian ini
akan menambah faktor penyebab pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es
yang mencair, sehingga menjadi suatu siklus yang berkelanjutan (Thomas, 2001).
Faktor lain yang memiliki kontribusi terhadap pemanasan global adalah efek
balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku
(permafrost). Selain itu, es yang mencair juga akan melepas CH4 yang juga dapat
menimbulkan umpan balik positif.
Laut memiliki kemampuan ekologis untuk menyerap karbon di atmosfer.
Fitoplankton mampu menyerap karbon guna kelangsungan proses fotosintesis. Tetapi
kemampuan ini akan berkurang jika laut menghangat yang diakibatkan oleh
menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan
diatom daripada fitoplankton (Buesseler, et al, 2007).
Variasi matahari
Pemanasan global dapat pula diakibatkan oleh variasi matahari. Suatu
hipotesis menyatakan bahwa variasi dari Matahari yang diperkuat oleh umpan balik
dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini (Marsh and Henrik,
2000). Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca
adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer, sebaliknya efek
rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah
paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas
Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. Penipisan lapisan ozon juga
dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai
akhir tahun 1970-an. Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas
gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri
hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950 (Hegerl, et al. 2007,
Ammann, et al, 2007).
Hasil penelitian menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah
diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University
mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50%
peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-
35% antara tahun 1980 dan 2000 (Scafetta and West, 2006). Selanjutnya menurut Stott (2003) bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi
berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh
Matahari, mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik
dan aerosol sulfat juga tidak diperhitungkan. Walaupun demikian, mereka
menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap
pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekadedekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 menurut
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagian besar disebabkan oleh
meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C antara tahun 1990 dan 2100.
Dengan menggunakan model iklim, perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh
penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa
mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian
besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka
air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun
tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas
dari lautan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan
serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke
daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia
mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau
membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi
yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani
dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas
rumah kaca.
Protokol ini mengharuskan negara-negara industri untuk menurunkan
emisinya sebesar 5,2 persen di bawah tingkat emisi tahun 1990 dengan target waktu
hingga 2012 dan baru memperoleh kekuatan hukumnya secara internasional pada
tanggal 16 Februari 2005. Hingga 23 Oktober 2007 sudah 179 negara yang
meratifikasi Protokol Kyoto tersebut. Kemudian pada tanggal 3-14 Desember 2007 di
Bali diselenggarakanlah Konvensi Tingkat Tinggi yang digelar oleh UNFCCC
(United Nations Framework Convention on Climate Change) dan dihadiri hampir 10
ribu orang dari 185 negara. Melalui pertemuan tersebut diharapkan dapat
mengevaluasi hasil kinerja dari Protokol Kyoto yang dibuat sebagai bukti komitmen
negara-negara sedunia dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca demi
menanggulangi permasalahan yang terjadi saat ini.
Dampak Pemanasan Global
Pemanasan global telah memicu terjadinya sejumlah konsekuensi yang
merugikan baik terhadap lingkungan maupun setiap aspek kehidupan manusia.
Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Mencairnya lapisan es di kutub Utara dan Selatan. Peristiwa ini mengakibatkan
naiknya permukaan air laut secara global, hal ini dapat mengakibatkan sejumlah
pulau-pulau kecil tenggelam. Kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir
terancam. Permukiman penduduk dilanda banjir rob akibat air pasang yang tinggi,
dan ini berakibat kerusakan fasilitas sosial dan ekonomi. Jika ini terjadi terus
menerus maka akibatnya dapat mengancam sendi kehidupan masyarakat.
2. Meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Perubahan iklim
menyebabkan musim sulit diprediksi. Petani tidak dapat memprediksi perkiraan
musim tanam akibat musim yang juga tidak menentu. Akibat musim tanam yang
sulit diprediksi dan musim penghujan yang tidak menentu maka musim produksi
panen juga demikian. Hal ini berdampak pada masalah penyediaan pangan bagi
penduduk, kelaparan, lapangan kerja bahkan menimbulkan kriminal akibat
tekanan tuntutan hidup.
3. Punahnya berbagai jenis fauna. Flora dan fauna memiliki batas toleransi terhadap
suhu, kelembaban, kadar air dan sumber makanan. Kenaikan suhu global
menyebabkan terganggunya siklus air, kelembaban udara dan berdampak pada
pertumbuhan tumbuhan sehingga menghambat laju produktivitas primer. Kondisi
ini pun memberikan pengaruh habitat dan kehidupan fauna.
4. Habitat hewan berubah akibat perubahan faktor-faktor suhu, kelembaban dan
produktivitas primer sehingga sejumlah hewan melakukan migrasi untuk
menemukan habitat baru yang sesuai. Migrasi burung akan berubah disebabkan
perubahan musim, arah dan kecepatan angin, arus laut (yang membawa nutrien
dan migrasi ikan).
5. Peningkatan muka air laut, air pasang dan musim hujan yang tidak menentu
menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.
6. Ketinggian gunung-gunung tinggi berkurang akibat mencairnya es pada
puncaknya.
7. Perubahan tekanan udara, suhu, kecepatan dan arah angin menyebabkan
terjadinya perubahan arus laut. Hal ini dapat berpegaruh pada migrasi ikan,
sehingga memberi dampak pada hasil perikanan tangkap.
8. Berubahnya habitat memungkinkan terjadinya perubahan terhadap resistensi
kehidupan larva dan masa pertumbuhan organisme tertentu, kondisi ini tidak
menutup kemungkinan adanya pertumbuhan dan resistensi organisme penyebab
penyakit tropis. Jenis-jenis larva yang berubah resistensinya terhadap perubahan
musim dapat meningkatkan penyebaran organisme ini lebih luas. Ini
menimbulkan wabah penyakit yang dianggap baru.
9. Mengancam kerusakan terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang yang
ada di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Kepulauan Salomon, Papua Nugini, Timor Leste, dan Philipina. Dikhawatirkan merusak kehidupan
masyarakat lokal yang berada di sekitarnya. Masyarakat lokal yang pertama kali
menjadi korban akibat kerusakan terumbu karang ini. Untuk menyelamatkan
kerusakan terumbu karang akibat pemanasan global ini, maka para aktivis
lingkungan dari enam negara tersebut telah merancang protokol adaptasi
penyelamatan terumbu karang. Lebih dari 50 persen spesies terumbu karang
dunia hidup berada di kawasan segitiga ini. Berdasarkan data Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC), sebanyak 30 persen terumbu karang dunia telah
mati akibat badai el nino pada 1998 lalu. Diprediksi, pada 10 tahun ke depan akan
kembali terjadi kerusakan sebanyak 30 persen.
Meminimalisasi Dampak Pemanasan Global
1. Konservasi lingkungan, dengan melakukan penanaman pohon dan penghijauan di
lahan-lahan kritis. Tumbuhan hijau memiliki peran dalam proses fotosintesis,
dalam proses ini tumbuhan memerlukan karbondioksida dan menghasilkan
oksigen. Akumulasi gas-gas karbon di atmosfer dapat dikurangi.
2. Menggunakan energi yang bersumber dari energi alternatif guna mengurangi
penggunaan energi bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Emisi gas
karbon yang terakumulasi ke atmosfer banyak dihasilkan oleh pembakaran bahan
bakar fosil. Kita mengenal bahwa paling banyak mesin-mesin kendaraan dan
industri digerakkan oleh mesin yang menggunakan bahan bakar ini. Karena itu
diupayakan sumber energi lain yang aman dari emisi gas-gas ini, misalnya;
menggunakan energi matahari, air, angin, dan bioenergy. Di daerah tropis yang
kaya akan energi matahari diharapkan muncul teknologi yang mampu
menggunakan energi ini, misalnya dengan mobil tenaga surya, listrik tenaga
surya. Sekarang ini sedang dikembangkan bioenergy, antara lain biji tanaman
jarak (Jathropa. sp) yang menghasilkan minyak.
3. Daur ulang dan efisiensi energi. Penggunaan minyak tanah untuk menyalakan
kompor di rumah, menghasilkan asap dan jelaga yang mengandung karbon.
Karena itu sebaiknya diganti dengan gas. Biogas menjadi hal yang baik dan perlu
dikembangkan, misalnya dari sampah organik.
4. Upaya pendidikan kepada masyarakat luas dengan memberikan pemahaman dan
penerapan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Dimensi manusia
Manusia berperan sebagai pengguna-perusak-pelestari alam. Manusia harus
diberi kesadaran akan pentingnya alam bagi kehidupannya. Alam memiliki
keterbatasan dibanding kemampuan manusia dalam mengeksploatasi alam.
Manusia memanfaatkan alam guna memperoleh sumber makanan dan
kebutuhan sosial lainnya, tetapi disadari atau tidak tindakannya dapat
berakibat kerusakan faktor-faktor ekologis. Karena itu manusia harus
menyadari bahwa ia dan perilakunya adalah bagian dari alam dan lingkungan
yang saling mempengaruhi.
b) Penegakan hukum dan keteladanan
Pelanggaran atas tindakan manusia yang merusak lingkungan harus mendapat
ganjaran. Penegakan hukum lingkungan menjadi bagian yang penting guna
menjaga kelestarian lingkungan, dan memberi efek jera bagi yang melanggar.
Penegakan hukum tidak memandang strata sosial masyarakat. Selain itu
adalah panutan dan ketokohan seseorang memegang peranan penting. Mereka
yang memiliki pemahaman yang lebih baik (berpendidikan) terhadap
lingkungan hidup hendaknya berperan memberi contoh dan sikap lingkungan
yang baik pula kepada masyarakat. Misalnya, kita masih menemukan kasus
peran beberapa aparat pemerintah dibalik kerusakan hutan, baik dengan
memberikan modal maupun perlindungan bagi perambah hutan.
c) Keterpaduan
Seluruh elemen masyarakat harus mendukung upaya pelestarian lingkungan
dan sumberdaya alam serta penegakan hukumnya. Upaya ini harus dilakukan
secara komprehensif dan lintas sektor. Misalnya, untuk mengatasi emisi gasgas rumah kaca akibat peningkatan jumlah kendaraan di Kota Jakarta, harus
di atas secara bersama dengan daerah sekitar seperti Bogor, Depok, Bekasi,
dan Tangerang. Karena pekerja yang menggunakan kendaraan bermotor
setiap hari masuk ke kota Jakarta bermukim di empat kota tersebut. Demikian
halnya mengatasi banjir di Kota Gorontalo, misalnya, tidak dapat diatasi
dengan perbaikan fasilitas lingkungan dan membina kesadaran penduduk
kota, tetapi secara menyeluruh dengan masyarakat di wilayah lain (hulu dan
DAS) yang memberi kontribusi terhadap bencana banjir. Masyarakat dan
pemerintah daerah terdekat seperti Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten
Gorontalo turut bertanggungjawab dalam upaya penanggulangan banjir di
Kota Gorontalo. Secara geografis, terdapat daerah aliran sungai dimana dua
sungai besar yang melewati dan bermuara di kota ini. Karena itu bencana
alam dan kerusakan lingkungan tidak dapat dipilah menurut wilayah
administratif semata, tetapi bersifat area geografis-ekologis.
d) Mengubah pola pikir dan sikap
Faktor-faktor lingkungan fisik, mahluk hidup lain dan manusia memiliki
peran masing-masing dalam lingkungan hidup. Manusia sebagai mahluk yang
diberi kemampuan logika harus mampu memandang kepentingan hidupnya
terkait dengan kehidupan mahluk hidup lain beserta kejadian proses-proses
alam. Sikap dan perilaku manusia terhadap alam cepat atau lambat memberi
berdampak pada lingkungan hidupnya. Peduli terhadap lingkungan pada
dasarnya merupakan sikap dan perilaku bawaan manusia. Akan tetapi
munculnya ketidak pedulian manusia adalah pikiran atau persepsi yang
berbeda-beda ketika manusia berhadapan dengan masalah lingkungan.
Manusia harus memandang bahwa dirinya adalah bagian dari unsur ekosistem
dan lingkungannya. Naluri untuk mempertahankan hidup akan memberi
motivasi bagi manusia untuk melestarikan ekosistem dan lingkungannya.
e) Etika lingkungan
Kecintaan dan kearifan kita terhadap lingkungan menjadi filosofi kita tentang
lingkungan hidup. Apa pun pemahaman kita tentang lingkungan hidup dan
sumber daya, kita harus bersikap dan berperilaku arif dalam kehidupan.
Dalam wujud budaya tradisional, kearifan lokal melahirkan etika dan norma
kehidupan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam dan
lingkungannya. Selama masyarakat masih menghormati budaya tradisional
yang memiliki etika dan nilai moral terhadap lingkungan alamnya, maka
konservasi sumber daya alam dan lingkungan menjadi hal yang mutlak.
Dalam kehidupan masyarakat demikian, etika lingkungan tidak tampak secara
teoretik tetapi menjadi pola hidup dan budaya yang dipelihara oleh setiap
generasi. Etika lingkungan akan berdaya guna jika muncul dalam tindakan
nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Rujukan
Ammann, Caspar, et al. (2007). "Solar influence on climate during the past
millennium: Results from ransient simulations with the NCAR Climate
Simulation Model". Proceedings of the National Academy of Sciences of the
United States of America 104 (10): 3713-3718.
Anonimous, 2004. Temperatur Rata-rata Global 1860 sampai 2000. tersedia dalam
http//id.wikipedia.org/wiki. Pemanasan_Global#search column-one
Buesseler, K.O., C.H. Lamborg, P.W. Boyd, P.J. Lam, T.W. Trull, R.R. Bidigare,
J.K.B. Bishop, K.L. Casciotti, F. Dehairs, M. Elskens, M. Honda, D.M. Karl,
D.A. Siegel, M.W. Silver, D.K. Steinberg, J. Valdes, B. Van Mooy, S.
Wilson. (2007) "Revisiting carbon flux through the ocean's twilight zone."
Science 316: 567-570.
Climate Change 2001:Working Group I: The Scientific Basis (Fig. 2.12). URL
diakses pada 11-11-2008
Gleason, Karen K., Simon Karecki, and Rafael Reif (2007). Climate Classroom;
What’s up with global warming?, National Wildlife Federation. URL diakses
22-01-2008
Hegerl, Gabriele C. et al. Understanding and Attributing Climate Change. Climate
Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I
to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change. URL diakses pada 10-
11-2008
Marsh, Nigel, Henrik, Svensmark (2000). "Cosmic Rays, Clouds, and Climate" Space
Science Reviews 94: 215-230. URL diakses pada 11-11-2008.
Scafetta, Nicola, West, Bruce J. (2006). "Phenomenological solar contribution to the
1900-2000 global surface warming". Geophysical Research Letters 33 (5).
URL diakses pada 10-11-2008.
Soden, Brian J., Held, Isacc M. (2005). "An Assessment of Climate Feedbacks in
Coupled Ocean-Atmosphere Models". Journal of Climate 19(14). URL
diakses pada 10-11-2008.
Stocker, Thomas F.; et al. Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis.
Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on
Climate Change. URL diakses pada 11-11-2008
Stott, Peter A., et al. (2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to
Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): URL diakses pada 10-
11-2008.
Summary for Policymakers. Climate Change 2007: The Physical Sciences Basis,
Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on
Climate Change. URL diakses pada 10-11-2008
Rabu, 09 Oktober 2019
PENGUKURAN CAHAYA MENGGUNAKAN LUX METER DI RUANG BELAJAR
Gambar (1)Hasil Pengukuran menggunakan lux saat belajar
Gambar (2) dan (3) menggambarkan keadaan cahaya yang menerangi ruangan saat sedang belajar
Rabu, 02 Oktober 2019
TUGAS : PENGOLAHAN TANAH AKIBAT TSUNAMI
Air diserap oleh akar tanaman melalui suatu proses yang disebut osmosis, yang
melibatkan pergerakan air dari tempat dengan konsentrasi garam
1
rendah (contohnya
tanah) ke tempat yang memiliki konsentrasi garam tinggi (contohnya bagian dalam dari
sel-sel akar). Jika konsentrasi garam di dalam tanah tinggi, pergerakan air dari tanah ke
akar melambat. Jika konsentrasi garam pada tanah lebih tinggi dibandingkan dengan di
dalam sel-sel akar, tanah akan menyerap air dari akar, dan tanaman akan layu dan mati.
Ini merupakan prinsip dasar bagaimana salinisasi mempengaruhi produksi tanaman.
Pengaruh yang merusak dari garam pada tanaman tidak hanya disebabkan oleh daya
osmosis, tetapi juga oleh sodium (Na
+
) and klor (Cl
-
) pada konsentrasi yang meracun
tanaman. Khususnya tanaman buah-buahan dan tanaman hias dari jenis kayu-kayuan
(bougenvil, kembang sepatu, dll) sangat sensitif terhadap kadar yang tinggi dari
unsur-unsur tersebut. Demikian juga, tingginya nilai pH (ukuran untuk keseimbangan
asam/basa) yang disebabkan oleh konsentrasi sodium yang tinggi akan berakibat pada
kekurangan unsur mikro.
Tingkat sensitivitas tanaman terhadap kadar garam bervariasi. Jenis tanaman dengan
toleransi terhadap garam yang paling rendah adalah tomat, bawang bombai terhadap
garam dan selada. Pada tingkat ekstrim yang lain adalah halophytes, yang paling sering
dijumpai di rawa-rawa bergaram, daerah pantai, dan lingkungan bergaram lainnya.
Salinisasi tanah adalah masalah yang umum dijumpai di daerah-daerah dengan curah
hujan rendah. Jika dikombinasikan dengan irigasi dan kondisi drainase yang buruk,
dapat mengakibatkan hilangnya kesuburan tanah secara permanen. Tipe salinitas seperti
ini merupakan faktor penyebab krisis kemanusiaan yang diakibatkan oleh kekeringan.
Sementara salinisasi tanah yang muncul sebagai akibat dari bencana alam yang terjadi
dalam waktu singkat, sampai saat ini terbatas hanya disebabkan oleh tsunami.Garam mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui: (a) keracunan yang
diakibatkan penyerapan unsur penyusun garam secara berlebihan, seperti sodium,
(b) penurunan penyerapan air, dikenal sebagai cekaman air dan (c) penurunan dalam
penyerapan unsur-unsur penting bagi tanaman khususnya potasium. Gejala awal
munculnya kerusakan tanaman oleh salinitas adalah (a) warna daun yang menjadi
lebih gelap daripada warna normal yang hijau-kebiruan, (b) ukuran daun yang
lebih kecil dan (c) batang dengan jarak tangkai daun yang lebih pendek. Jika
permasalahannya menjadi lebih parah, daun akan (a) menjadi kuning (klorosis) dan
(b) tepi daun mati mengering terkena “burning” (terbakar, menjadi kecoklatan).
Benar bahwa selama terjadinya tsunami air laut membawa garam ke permukaan
tanah, akan tetapi sebagian besar lahan tergenang dalam waktu yang relatif singkat,
dan sebagian besar garam akan –atau telah- tercuci oleh hujan yang sering terjadi.
Dari survei yang baru-baru ini dilakukan oleh FAO ditemukan bahwa
lapisan-lapisan liat atau debu hasil darin gelombang tsunami justru mengandung
residu garam yang tinggi. Lapisan liat atau debu tersebut sangat mudah
diidentifikasi dari retakan-retakan yang menyebar di seluruh permukaan tanah. Di
sebagian besar tempat, setelah digali sampai kurang lebih sedalam 20 cm dijumpai
lapisan keabuan yang masih jelas.Satu pilihan yang efektif untuk mempercepat pencucian garam adalah
menghancurkan lapisan permukaan dengan pengolahan tanah, baik dengan atau
tanpa mencampur bagian permukaan tersebut dengan tanah di bawahnya. Untuk
lahan kering, hal ini akan meningkatkan perkolasi. Untuk lahan sawah,
pencampuran akan secara aktif melepaskan garam ke dalam air, yang kemudian
harus dibuang dengan cara penggelontoran permukaan. Pada kawasan sawah
tadah-hujan, ini dapat dilakukan selama musim kemarau ketika tanah lebih keras
dan pekerjaannya menjadi lebih mudah, antara lain untuk membantu proses
pencucian pada saat musim hujan berikutnya mulai.
melibatkan pergerakan air dari tempat dengan konsentrasi garam
1
rendah (contohnya
tanah) ke tempat yang memiliki konsentrasi garam tinggi (contohnya bagian dalam dari
sel-sel akar). Jika konsentrasi garam di dalam tanah tinggi, pergerakan air dari tanah ke
akar melambat. Jika konsentrasi garam pada tanah lebih tinggi dibandingkan dengan di
dalam sel-sel akar, tanah akan menyerap air dari akar, dan tanaman akan layu dan mati.
Ini merupakan prinsip dasar bagaimana salinisasi mempengaruhi produksi tanaman.
Pengaruh yang merusak dari garam pada tanaman tidak hanya disebabkan oleh daya
osmosis, tetapi juga oleh sodium (Na
+
) and klor (Cl
-
) pada konsentrasi yang meracun
tanaman. Khususnya tanaman buah-buahan dan tanaman hias dari jenis kayu-kayuan
(bougenvil, kembang sepatu, dll) sangat sensitif terhadap kadar yang tinggi dari
unsur-unsur tersebut. Demikian juga, tingginya nilai pH (ukuran untuk keseimbangan
asam/basa) yang disebabkan oleh konsentrasi sodium yang tinggi akan berakibat pada
kekurangan unsur mikro.
Tingkat sensitivitas tanaman terhadap kadar garam bervariasi. Jenis tanaman dengan
toleransi terhadap garam yang paling rendah adalah tomat, bawang bombai terhadap
garam dan selada. Pada tingkat ekstrim yang lain adalah halophytes, yang paling sering
dijumpai di rawa-rawa bergaram, daerah pantai, dan lingkungan bergaram lainnya.
Salinisasi tanah adalah masalah yang umum dijumpai di daerah-daerah dengan curah
hujan rendah. Jika dikombinasikan dengan irigasi dan kondisi drainase yang buruk,
dapat mengakibatkan hilangnya kesuburan tanah secara permanen. Tipe salinitas seperti
ini merupakan faktor penyebab krisis kemanusiaan yang diakibatkan oleh kekeringan.
Sementara salinisasi tanah yang muncul sebagai akibat dari bencana alam yang terjadi
dalam waktu singkat, sampai saat ini terbatas hanya disebabkan oleh tsunami.Garam mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui: (a) keracunan yang
diakibatkan penyerapan unsur penyusun garam secara berlebihan, seperti sodium,
(b) penurunan penyerapan air, dikenal sebagai cekaman air dan (c) penurunan dalam
penyerapan unsur-unsur penting bagi tanaman khususnya potasium. Gejala awal
munculnya kerusakan tanaman oleh salinitas adalah (a) warna daun yang menjadi
lebih gelap daripada warna normal yang hijau-kebiruan, (b) ukuran daun yang
lebih kecil dan (c) batang dengan jarak tangkai daun yang lebih pendek. Jika
permasalahannya menjadi lebih parah, daun akan (a) menjadi kuning (klorosis) dan
(b) tepi daun mati mengering terkena “burning” (terbakar, menjadi kecoklatan).
Benar bahwa selama terjadinya tsunami air laut membawa garam ke permukaan
tanah, akan tetapi sebagian besar lahan tergenang dalam waktu yang relatif singkat,
dan sebagian besar garam akan –atau telah- tercuci oleh hujan yang sering terjadi.
Dari survei yang baru-baru ini dilakukan oleh FAO ditemukan bahwa
lapisan-lapisan liat atau debu hasil darin gelombang tsunami justru mengandung
residu garam yang tinggi. Lapisan liat atau debu tersebut sangat mudah
diidentifikasi dari retakan-retakan yang menyebar di seluruh permukaan tanah. Di
sebagian besar tempat, setelah digali sampai kurang lebih sedalam 20 cm dijumpai
lapisan keabuan yang masih jelas.Satu pilihan yang efektif untuk mempercepat pencucian garam adalah
menghancurkan lapisan permukaan dengan pengolahan tanah, baik dengan atau
tanpa mencampur bagian permukaan tersebut dengan tanah di bawahnya. Untuk
lahan kering, hal ini akan meningkatkan perkolasi. Untuk lahan sawah,
pencampuran akan secara aktif melepaskan garam ke dalam air, yang kemudian
harus dibuang dengan cara penggelontoran permukaan. Pada kawasan sawah
tadah-hujan, ini dapat dilakukan selama musim kemarau ketika tanah lebih keras
dan pekerjaannya menjadi lebih mudah, antara lain untuk membantu proses
pencucian pada saat musim hujan berikutnya mulai.
Sabtu, 28 September 2019
METODE MENGATASI PENCEMARAN TANAH 3
Daur ulang
Daur ulang ini diperuntukkan bagi sampah- sampah non organik agar dapat mengurangi polutan di tanah. Daur ulang sampah plastik misalnya, dapat diubah menjadi berbagai barang yang bermanfaat bagi kehidupan sehari- hari.
Rehabilitasi kerusakan sifat fisik tanah
Kerusakan sifat fisik tanah pada umumnya diakibatkan oleh memburuknya struktur tanah. Penurunan kualitas kestabilan agregat tanah ini diiringi oleh penurunan kandungan bahan- bahan organik dan jumlah mikroorganisme tanah. Untuk memperbaikinya dapat dilakukan peningkatan kandungan bahan organik tanah melalui dedaunan kering dan peningkatan keanekaragaman tanaman untuk memperbaiki sistem persebaran peakaran.
Rehabilitasi kerusakan kimia dan biologi tanah
Kerusakan kimia dan biologi pada tanah ditandai dengan penurunan kandungan bahan organik dan kenaikan kadar asam tanah. Tindakan perbaikan pada tanah ini dilakukan dengan cara pemberian jerami dan zat kapur. Pemberian jerami dapat meningkatkan aktivitas mikroba yang dapat membusukkan bahan- bahan tanah dan juga menghasilkan bahan organik. Sementara pemberian zat kapur dapat membantu menetralisir kadar asam yang ada di dalam tanah.
Pemanfaatan kantong plastik berbahan dasar ampas singkong
Plastik yang sulit terurai merupakan permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satu perbedaan plastik berbahan dasar ampas singkong dengan plastik biasa dalam proses bio-degradasinya yaitu, plastik singkong bisa tenggelam dalam air. Begitu tenggelam akan dimakan mikroorganisme, dan hilang kurang dari 60 hari. Sementara plastik biasa akan mengapung dan bisa menyumbat saluran air. Sama halnya juga pada permukaan tanah, plastik berbahan dasar singkong juga mudah terurai di dalam tanah dan tidak membunuh organisme dan mikroorganisme dalam tanah.
A. Remidiasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Hal yang perlu diketahui sebelum dilakukan remidiasi adalah sebagai berikut:
Jenis pencemar (organic atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut,
Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
Jenis tanah,
Kondisi tanah (basah, kering),
Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
B. Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
Jenis jenis biomerasi
• Biostimulasi
Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.
• Bioaugmentasi
Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.
• Bioremediasi Intrinsik
Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.
Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi :
a) Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi ph, dsb
b) Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus
c) Penerapan immobilized enzymes
d) Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.
Proses Biomerasi
Transformasi kimia dari bahan pencemar pestisida melalui proses bioremediasi ini meliputi beberapa proses, yaitu
1) Detoksikasi, yaitu konversi dari molekul yang bersifat toksik menjadi produk yangtidak bersifat toksik.
2) Degradasi, yaitu transformasi dari substrat kompleks menjadi produk yang lebih sederhana.
3) Konjugasi, yaitu pembentukan senyawa kompleks, atau reaksi penambahan, dimana suatu organisme dapat menghasilkan substrat yang lebih kompleks dan mengkombinasikannya dengan pestisida dengan sel metabolis. Konjugasi atau pembentukan senyawa pengkompleks dapat dihasilkan dari organisme yang menghasilkan suatu asam amino, asam organik, methyl atau senyawa lain yang bereaksi dengan polutan membentuk substrat lainnya. Konjugasi adalah salah satu bentuk bioremediasi dari metabolisme mikroorganisme terhadap fungisida sodium dimethyldithiocarbamate, dimana mikroorganisme mengkompleks pestisida dengan asam amino pada sel.
4) Aktivasi, yaitu konversi substrat yang nontoksik menjadi molekul toksik seperti bahan aktif awal dari pestisida. Sebagai contoh, herbisida 4- (2,4-dichlorophenoxy) butyric acid ditransformasi dan diaktivasi oleh mikroorganisme dalam tanah menghasilkan senyawa yang bersifat toksik terhadap gulma dan serangga. Proses aktivasi ini lebih menekankan pada efisiensi penggunaan pestisida, atau aktivasi residu.
5) Proses defusi, yaitu konversi molekul nontoksik berasal dari pestisida yang sedang dalam proses aktivasi secara enzimatik, menjadi produk nontoksik yang tidak lagi dalam proses enzimatik.
6) Perubahan spektrum toksisitas. Contoh bioremediasi bagi lingkungan yang tercemar minyak bumi. Yang pertama dilakukan adalah mengaktifkan bakteri alami pengurai minyak bumi yang ada di dalam tanah yang mengalami pencemaran tersebut. Bakteri ini kemudian akan menguraikan limbah minyak bumi yang telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan hidup bakteri tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat kandungan minyak akan berkurang dan akhirnya hilang, inilah yang disebut sistem bioremediasi.
Manfaat Biomerasi
1) Bidang Lingkungan
Pengolahan limbah yang ramah lingkungan dan bahkan mengubah limbah tersebut menjadi ramah lingkungan. Contoh bioremediasi dalam lingkungan yakni telah membantu mengurangi pencemaran dari pabrik, misalnya saat 1979, supertanker Exxon Valdez di Alaska, lebih dari 11juta gallon oli mentah mengalir, tetapi bakteri pemakan oli membantu mengurangi pencemaran laut yang lebih jauh lagi.
2) Bidang Industri
Bioremediasi telah memberikan suatu inovasi baru yang membangkitkan semangat industri sehingga terbentuklah suatu perusahaan yang khusus bergerak dibidang bioremediasi, contohnya adalah Regenesis Bioremediation Products, Inc., di San Clemente, Calif.
3) Bidang Ekonomi
Bioremediasi menggunakan bahan bahan alami yang hasilnya ramah lingkungan, sedangkan mesin-mesin yang digunakan dalam pengolahan limbah memerlukan modal dan biaya yang jauh lebih, sehingga bioremediasi memberikan solusi ekonomi yang lebih baik.
4) Bidang Pendidikan
Penggunaan microorganisme dalam bioremediasi, dapat membantu penelitian terhadap mikroorganisme yang masih belum diketahui secara jelas.Pengetahuan ini akan memberikan sumbangan yang besar bagi dunia pendidikan sains.
5) Bidang Teknologi
Bioremediasi memberikan tantangan baru bagi teknologi untuk terus memberikan inovasi yang lebih baik bagi lingkungan.
6) Bidang Sosial
Bioremediasi memberikan solusi ekonomi yang mudah dijangkau dan mudah dilakukan baik bagi rumah tangga dan industri. Dengan begini, limbah rumah tangga dapat dikelola jauh lebih baik.
7) Bidang Kesehatan
Dengan pengelolaan limbah yang baik, pencemaran dapat diminimalisir sehingga kualitas hidup manusia jauh meningkat.
8) Bidang Politik
Isu lingkungan dapat lebih ditekan sehingga para petinggi dapat memfokuskan masalah ke lingkup lain, Bahkan bioremediasi dapat membantu memperbaiki masalah yang berkesinambungan didalamnya.
Keunggulan Biomerasi
• Meminimalisasi terinfeksinya pekerja lapangan
• Perlindungan kesehatan masyarakat yang berjangka panjang
• Proses pelaksanaan dapat dilakukan langsung di daerah tersebut dengan lahan yang sempit sekalipun.
• Menghilangkan zat-zat berbahaya
• Menggunakan proses yang bersifat alami
• Mengubah polutan bukan hanya memindahkannya
• Proses degradasi dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang cepat
C. Fitoremediasi
Fitoremediasi adalah teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan polutan berbahaya, seperti logam berat, pestisida, dan senyawa organik beracun dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman (hiperakumulator plant).
Tanaman hiperakumulator :
Mampu menyerap lebih dari 10.000 ppm Mn, Zn, Ni Lebih dari 1.000 ppm untuk Cu dan Se Lebih dari 100 ppm untuk Cd, Cr, Pb, dan Co.
Contoh Tanaman Hiperakumulator
Thlaspi caerulescens menyerap Zink (Zn) dan Kadmium (Cd)
Alyssum sp., Berkheya sp., Sebertia acuminate menyerap Nikel (Ni)
Brassicacea sp. Menyerap Sulfate
Pteris vittata, Pityrogramma calomelanos menyerap Arsenik (As)
Pteris vittata, Nicotiana tabacum, Liriodendron tulipifera menyerap Mercuri (Hg)
Thlaspi caerulescens, Alyssum murale, Oryza sativa menyerap Senyawa organik (petroleum hydrocarbons, PCBs, PAHs, TCE juga TNT)
Brassica sp. Menyerap Emas (Au)
Brassica juncea. Menyerap Selenium (Se)
Proses Fitoremediasi
Phytoacumulation : tumbuhan menarik zat kontaminan sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan
Rhizofiltration : proses adsorpsi / pengendapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar.
Phytostabilization : penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan.
Rhyzodegradetion : penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba
Phytodegradation : penguraian zat kontamin
Phytovolatization : transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya
Keuntungan Fitoremediasi
Biaya operasi lebih murah
Tanaman juga bisa dijadikan bahan bakar
Pencemaran pada tanah bisa berkurang secara alamiah
Tanah juga akan mengalami perbaikan akibat adanya aktivitas akar
Tanah menjadi lebih subur kembali
Tanaman yang mampu menyerap unsur bernilai ekonomi seperti emas (au) dan nikel (ni) bisa digunakan untuk pertambangan.
Faktor yang mendukung kesuksesan fitoremediasi
Adanya ketersediaan tanaman hiperakumulator yang cocok.
Adanya kerja sama yang baik antarbidang ilmu lain
METODE MENGATASI PENCEMARAN TANAH 2
Tanah yang telah terkontaminasi oleh berbagai jenis polutan dapat dipulihkan dengan metode pengolahan yang disebut dengan remidiasi. Remidiasi yaitu kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah. Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diketahui diantaranya:
Jenis pencemar (organik atau anorganik), terdegradasi atau tidak, berbahaya atau tidak.
Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut.
Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan fosfat (P).
Jenis tanah.
Kondisi tanah (basah, kering).
Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut.
Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
Remediasi in situ
Remediasi in situ adalah pembersihan atau pengolahan tanah terkontaminasi di lokasi. Remediasi in situ lebih murah dan lebih mudah dengan konversi biologi dan kimia, pemisahan daerah terkontaminasi agar tidak mencemari lingkungan lainnya.
Remediasi ex situ
Remediasi ex situ adalah pengolahan tanah terkontaminasi digali dan diolah di suatu unit pengolahan antara lain, dapat dilakukan dengan cara memisahkan bahan pencemar dengan tanah, penguraian kontaminan dengan mikroba, pemanfaatan energi panas yang dapat menguapkan kontaminan dari tanah, dan ekstraksi kontaminan dari tanah. Remediasi ex situ ini jauh lebih mahal dan rumit.
Bioremediasi
Bioremediasi merupakan proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Proses bioremediasi harus memperhatikan temperatur tanah, ketersediaan air, nutrien (N, P, K), perbandingan C : N kurang dari 30 : 1, dan ketersediaan oksigen.
Jenis pencemar (organik atau anorganik), terdegradasi atau tidak, berbahaya atau tidak.
Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut.
Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan fosfat (P).
Jenis tanah.
Kondisi tanah (basah, kering).
Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut.
Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
Remediasi in situ
Remediasi in situ adalah pembersihan atau pengolahan tanah terkontaminasi di lokasi. Remediasi in situ lebih murah dan lebih mudah dengan konversi biologi dan kimia, pemisahan daerah terkontaminasi agar tidak mencemari lingkungan lainnya.
Remediasi ex situ
Remediasi ex situ adalah pengolahan tanah terkontaminasi digali dan diolah di suatu unit pengolahan antara lain, dapat dilakukan dengan cara memisahkan bahan pencemar dengan tanah, penguraian kontaminan dengan mikroba, pemanfaatan energi panas yang dapat menguapkan kontaminan dari tanah, dan ekstraksi kontaminan dari tanah. Remediasi ex situ ini jauh lebih mahal dan rumit.
Bioremediasi
Bioremediasi merupakan proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Proses bioremediasi harus memperhatikan temperatur tanah, ketersediaan air, nutrien (N, P, K), perbandingan C : N kurang dari 30 : 1, dan ketersediaan oksigen.
METODE MENGATASI PENCEMARAN TANAH 1
Remediasi Sunting
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
Bioremediasi Sunting
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur, dan sebagainya.
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
Bioremediasi Sunting
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur, dan sebagainya.
SUMBER SUMBER PENCEMARAN TANAH
Pencemaran tanah adalah keadaan saat kualitas tanah terganggu akibat pengaruh zat kimia yang masuk ke dalam. Penyebab pencemaran tanah disebabkan karena sampah dan limbah akibat aktifitas manusia, baik limbah padat atau cair. Dampak pencemaran tanah menyebabkan banyak kerugian bagi manusia atau lingkungan.
Ada banyak jenis-jenis tanah yang rentan tercemar. Pencemaran tanah banyak terjadi di sekitar kita. Tanah menjadi tidak subur dan menurun kualitasnya. Pemandangan menjadi tidak enak dipandang karena banyaknya sampah dan limbah. Belum lagi bau yang ditimbulkan tentu menggangu orang-orang di sekitarnya.
Penyebab pencemaran tanah disebabkan karena berbagai jenis limbah, baik limbah cair atau limbah padat, limbah organik atau limbah anorganik serta limbah industri, rumah tangga atau petarnian. Akibat pencemaran tanah pun memiliki banyak efek dan dampak negatif bagi lingkungan.
Pengertian Pencemaran Tanah
Pengertian pencemaran tanah adalah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Hal ini menyebabkan turunnya kualitas tanah menjadi rusak dan tercemar karena pengaruh bahan kimia tersebut.
Umumnya pencemaran tanah terjadi disebabkan karena adanya kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri. Penyebab pencemaran tanah yang utama memang adalah limbah dan sampah, baik dari rumah tangga, pertanian atau sektor industri.
Dampak pencemaran tanah juga dapat berefek pada manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan. Tanah menjadi tidak subur, produktivitas pertanian menurun, tumbuhan menjadi layu serta memiliki dampak bagi kesehatan manusia juga.
Penyebab Pencemaran Tanah
Apa saja penyebab pencemaran tanah? Pencemaran tanah disebabkan oleh berbagai jenis limbah yang dibuang. Berikut adalah jenis-jenis penyebab pencemaran tanah beserta penjelasannya.
Limbah Cair
Limbah cair menjadi salah satu faktor terbesar penyebab terjadinya pencemaran tanah. Biasanya limbah cair dihasilkan dari pembuangan industri dan pabrik, berupa bahan-bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari tanah. Limbah cair mudah meresap ke dalam tanah dan merusak kandungannya dari dalam.
Limbah Padat
Selain limbah cair, limbah padat juga dapat mencemari tanah. Jenis limbah padat banyak berasal dari buangan industri, bisa juga berupa lumpur atau material yang tidak terpakai. Limbah padat yang sudah tidak terpakai juga memiliki kandungan yang berbahaya bagi tanah.
Limbah Organik
Pengertian limbah organik adalah jenis limbah yang dapat diuraikan kembali oleh mikroorganisme dalam tanah sehingga tidak terlalu berbahaya. Meski begitu limbah ini tetap dapat mencemari tanah. Contoh limbah organik misalnya oli, cat, sampah tumbuhan dan sebagainya.
Limbah Anorganik
Berbeda dengan limbah organik, limbah anorganik adalah jenis limbah yang tidak dapat mengalami penguraian oleh mikroorganisme di dalam tanah. Contoh limbah anorganik adalah botol minuman, plastik, kaleng bekas dan sebagainya. Limbah anorganik juga dapat membuat tanah menjadi tercemar.
Limbah Industri
Pada dasarnya sebagian besar limbah berasal dari limbah industri. Limbah industri bisa terdiri dari limbah cair atau padat serta limbah organik atau anorganik seperti yang sudah dibahas di atas. Limbah industri pun berasal dari berbagai sektor dari mulai pabrik, perusahaan, restoran, perhotelan, pariwisata, pemerintahan dan sebagainya.
Limbah Pertanian
Limbah pertanian merupakan limbah yang dihasilkan dari sektor pertanian. Misalnya saja limbah hasil penggunaan pupuk atau pestisida. Limbah pertanian memiliki andil besar terjadinya pencemaran tanah di sekitar sawah, termasuk rusaknya hasil tanaman dan juga hasil tanaman yang tidak optimal lagi.
Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga merupakan jenis limbah yang ada di sekitar kita, yakni yang dihasilkan dari rumah-rumah. Yang termasuk limbah rumah tangga adalah sampah-sampah hasil kehidupan sehari-hari manusia. Limbah ini dapat menyebabkan pencemaran tanah dan juga pencemaran air.
Bencana Alam
Terjadinya bencana alam juga bisa menjadi faktor penyebab pencemaran tanah, baik itu bencana gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor ataupun gunung meletus. Tanah akan menjadi tercemar karena struktur tanah sudah tercampur dengan zat-zat lainnya.
Kebakaran Hutan
Kebarakan hutan juga bisa menyebabkan pencemaran tanah. Hutan yang telah terbakar biasanya sulit untuk ditanami kembali karena kandungan zat-zat penting yang dalam tanah telah mati dan rusak oleh api. Selain itu, kebakaran hutan juga bisa menyebabkan pencemaran udara.
Dampak Pencemaran Tanah
Ada beberapa dampak dan akibat pencemaran tanah yang bisa merugikan. Dampak negatif pencemaran tanah ini berbahaya bagi manusia, makhluk hidup dan juga lingkungan sekitar.
Tanah Menjadi Tidak Subur
Salah satu dampak utama terjadinya pencemaran tanah adalah turunnya kualitas tanah. Akibatnya tanah menjadi tidak subur. Hal ini tentu merugikan, karena tanah yang subur bisa digunakan untuk menanam tumbuhan, keperluan pertanian atau hal-hal lainnya.
Menimbulkan Wabah Penyakit
Pencemaran tanah memiliki dampak negatif bagi kesehatan manusia. Ada banyak zat kimia pada pencemaran tanah yang mengakibatkan penyakit, misalnya zat timbale yang menyebabkan kerusakan otak, zat benzene yang berdampak pada penyakit leukimia, zat merkuri berdampak pada gangguan ginjal dan sebagainya.
Banyak Tanaman Layu dan Mati
Pencemaran tanah berdampak pada tumbuh kembang tumbuhan. Tanaman tidak akan mampu tumbuh subur di tanah yang tercemar atau tidak subur. Tamanan yang awalnya tumbuh dengan subur, lama-kelamaan akan menjadi layu, bahkan akan mati.
Merusak Estetika
Adanya pencemaran tanah akan menimbulkan dampak negatif berupa rusaknya pemandangan dan estetika. Tumpukan sampah dan limbah di tanah tentu tidak enak dipandang dan sangat buruk dalam segi estetika. Daerah sekeliling terjadinya pencemaran tentu mengalami dampak ini.
Kerusakan Ekosistem
Dampak pencemaran tanah juga dapat merusak ekosistem darat. Hal ini terjadi karena kualitas tanah yang terganggu, yang dapat merusak struktur rantai makanan yang sudah ada. Akibatnya keseimbangan ekosistem di sekitar wilayah pencemaran tanah menjadi terganggu pula.
Hasil Pertanian Menurun
Sektor pertanian juga ikut mendapat akibat pencemaran tanah. Perubahan metabolisme tanaman akan berdampak pada penurunan hasil pertanian. Tumbuhan tidak akan mampu tumbuh maksimal sehingg lahan pertanian juga menjadi tidak subur. Akibatnya produktivitas di sektor pertanian juga menurun.
Erosi
Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan dan material lain. Adanya pencemaran tanah juga bisa menyebabkan terjadinya erosi.
Menimbulkan Bau Tak Sedap
Pencemaran tanah juga menimbulkan bau tak sedap. Bau ini akibat adanya sampah, limbah atau zat kimia lain yang mencemari tanah. Akibatnya orang-orang di sekitar lokasi akan mencium bau tak sedap yang tentunya akan mengganggu orang yang beraktifitas dekat lokasi tersebut.
Salinitas Tanah Meningkat
Dampak negatif pencemaran tanah bisa menyebabkan salinitas tanah pun menjadi meningkat. Tanah yang salinitasnya meningkat itu menyebabkan tanah tersebut tidak layak untuk dijadikan vegetasi sehingga tanah tersebut akan dibiarkan tandus dan tidak berguna.
Contoh Pencemaran Tanah
Apa saja contoh pencemaran tanah? Berikut adalah beberapa contoh pencemaran tanah di sekitar kita berupa zat-zat yang biasa menjadi sumber terjadinya pencemaran tanah.
Bio-polutan, berasal dari hasil ekskresi manusia dan hewan.
Polutan radioaktif, berasal dari aktifitas manusia seperti nitrogen, uranium, thorium dan sebagainya.
Limbah urban, berasal dari rumah tangga dan perkotaan seperti plastik, limbah domestik dan materi buangan lain.
Limbah pertanian dan perkebunan, misalnya seperti pestisida, pupuk kimia, zat kapur, kompos dan sebagainya.
Limbah buangan industri, misalnya seperti logam timbal, merkuri, arsenik, nikel dan sebagainya.
Ada banyak jenis-jenis tanah yang rentan tercemar. Pencemaran tanah banyak terjadi di sekitar kita. Tanah menjadi tidak subur dan menurun kualitasnya. Pemandangan menjadi tidak enak dipandang karena banyaknya sampah dan limbah. Belum lagi bau yang ditimbulkan tentu menggangu orang-orang di sekitarnya.
Penyebab pencemaran tanah disebabkan karena berbagai jenis limbah, baik limbah cair atau limbah padat, limbah organik atau limbah anorganik serta limbah industri, rumah tangga atau petarnian. Akibat pencemaran tanah pun memiliki banyak efek dan dampak negatif bagi lingkungan.
Pengertian Pencemaran Tanah
Pengertian pencemaran tanah adalah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Hal ini menyebabkan turunnya kualitas tanah menjadi rusak dan tercemar karena pengaruh bahan kimia tersebut.
Umumnya pencemaran tanah terjadi disebabkan karena adanya kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri. Penyebab pencemaran tanah yang utama memang adalah limbah dan sampah, baik dari rumah tangga, pertanian atau sektor industri.
Dampak pencemaran tanah juga dapat berefek pada manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan. Tanah menjadi tidak subur, produktivitas pertanian menurun, tumbuhan menjadi layu serta memiliki dampak bagi kesehatan manusia juga.
Penyebab Pencemaran Tanah
Apa saja penyebab pencemaran tanah? Pencemaran tanah disebabkan oleh berbagai jenis limbah yang dibuang. Berikut adalah jenis-jenis penyebab pencemaran tanah beserta penjelasannya.
Limbah Cair
Limbah cair menjadi salah satu faktor terbesar penyebab terjadinya pencemaran tanah. Biasanya limbah cair dihasilkan dari pembuangan industri dan pabrik, berupa bahan-bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari tanah. Limbah cair mudah meresap ke dalam tanah dan merusak kandungannya dari dalam.
Limbah Padat
Selain limbah cair, limbah padat juga dapat mencemari tanah. Jenis limbah padat banyak berasal dari buangan industri, bisa juga berupa lumpur atau material yang tidak terpakai. Limbah padat yang sudah tidak terpakai juga memiliki kandungan yang berbahaya bagi tanah.
Limbah Organik
Pengertian limbah organik adalah jenis limbah yang dapat diuraikan kembali oleh mikroorganisme dalam tanah sehingga tidak terlalu berbahaya. Meski begitu limbah ini tetap dapat mencemari tanah. Contoh limbah organik misalnya oli, cat, sampah tumbuhan dan sebagainya.
Limbah Anorganik
Berbeda dengan limbah organik, limbah anorganik adalah jenis limbah yang tidak dapat mengalami penguraian oleh mikroorganisme di dalam tanah. Contoh limbah anorganik adalah botol minuman, plastik, kaleng bekas dan sebagainya. Limbah anorganik juga dapat membuat tanah menjadi tercemar.
Limbah Industri
Pada dasarnya sebagian besar limbah berasal dari limbah industri. Limbah industri bisa terdiri dari limbah cair atau padat serta limbah organik atau anorganik seperti yang sudah dibahas di atas. Limbah industri pun berasal dari berbagai sektor dari mulai pabrik, perusahaan, restoran, perhotelan, pariwisata, pemerintahan dan sebagainya.
Limbah Pertanian
Limbah pertanian merupakan limbah yang dihasilkan dari sektor pertanian. Misalnya saja limbah hasil penggunaan pupuk atau pestisida. Limbah pertanian memiliki andil besar terjadinya pencemaran tanah di sekitar sawah, termasuk rusaknya hasil tanaman dan juga hasil tanaman yang tidak optimal lagi.
Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga merupakan jenis limbah yang ada di sekitar kita, yakni yang dihasilkan dari rumah-rumah. Yang termasuk limbah rumah tangga adalah sampah-sampah hasil kehidupan sehari-hari manusia. Limbah ini dapat menyebabkan pencemaran tanah dan juga pencemaran air.
Bencana Alam
Terjadinya bencana alam juga bisa menjadi faktor penyebab pencemaran tanah, baik itu bencana gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor ataupun gunung meletus. Tanah akan menjadi tercemar karena struktur tanah sudah tercampur dengan zat-zat lainnya.
Kebakaran Hutan
Kebarakan hutan juga bisa menyebabkan pencemaran tanah. Hutan yang telah terbakar biasanya sulit untuk ditanami kembali karena kandungan zat-zat penting yang dalam tanah telah mati dan rusak oleh api. Selain itu, kebakaran hutan juga bisa menyebabkan pencemaran udara.
Dampak Pencemaran Tanah
Ada beberapa dampak dan akibat pencemaran tanah yang bisa merugikan. Dampak negatif pencemaran tanah ini berbahaya bagi manusia, makhluk hidup dan juga lingkungan sekitar.
Tanah Menjadi Tidak Subur
Salah satu dampak utama terjadinya pencemaran tanah adalah turunnya kualitas tanah. Akibatnya tanah menjadi tidak subur. Hal ini tentu merugikan, karena tanah yang subur bisa digunakan untuk menanam tumbuhan, keperluan pertanian atau hal-hal lainnya.
Menimbulkan Wabah Penyakit
Pencemaran tanah memiliki dampak negatif bagi kesehatan manusia. Ada banyak zat kimia pada pencemaran tanah yang mengakibatkan penyakit, misalnya zat timbale yang menyebabkan kerusakan otak, zat benzene yang berdampak pada penyakit leukimia, zat merkuri berdampak pada gangguan ginjal dan sebagainya.
Banyak Tanaman Layu dan Mati
Pencemaran tanah berdampak pada tumbuh kembang tumbuhan. Tanaman tidak akan mampu tumbuh subur di tanah yang tercemar atau tidak subur. Tamanan yang awalnya tumbuh dengan subur, lama-kelamaan akan menjadi layu, bahkan akan mati.
Merusak Estetika
Adanya pencemaran tanah akan menimbulkan dampak negatif berupa rusaknya pemandangan dan estetika. Tumpukan sampah dan limbah di tanah tentu tidak enak dipandang dan sangat buruk dalam segi estetika. Daerah sekeliling terjadinya pencemaran tentu mengalami dampak ini.
Kerusakan Ekosistem
Dampak pencemaran tanah juga dapat merusak ekosistem darat. Hal ini terjadi karena kualitas tanah yang terganggu, yang dapat merusak struktur rantai makanan yang sudah ada. Akibatnya keseimbangan ekosistem di sekitar wilayah pencemaran tanah menjadi terganggu pula.
Hasil Pertanian Menurun
Sektor pertanian juga ikut mendapat akibat pencemaran tanah. Perubahan metabolisme tanaman akan berdampak pada penurunan hasil pertanian. Tumbuhan tidak akan mampu tumbuh maksimal sehingg lahan pertanian juga menjadi tidak subur. Akibatnya produktivitas di sektor pertanian juga menurun.
Erosi
Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan dan material lain. Adanya pencemaran tanah juga bisa menyebabkan terjadinya erosi.
Menimbulkan Bau Tak Sedap
Pencemaran tanah juga menimbulkan bau tak sedap. Bau ini akibat adanya sampah, limbah atau zat kimia lain yang mencemari tanah. Akibatnya orang-orang di sekitar lokasi akan mencium bau tak sedap yang tentunya akan mengganggu orang yang beraktifitas dekat lokasi tersebut.
Salinitas Tanah Meningkat
Dampak negatif pencemaran tanah bisa menyebabkan salinitas tanah pun menjadi meningkat. Tanah yang salinitasnya meningkat itu menyebabkan tanah tersebut tidak layak untuk dijadikan vegetasi sehingga tanah tersebut akan dibiarkan tandus dan tidak berguna.
Contoh Pencemaran Tanah
Apa saja contoh pencemaran tanah? Berikut adalah beberapa contoh pencemaran tanah di sekitar kita berupa zat-zat yang biasa menjadi sumber terjadinya pencemaran tanah.
Bio-polutan, berasal dari hasil ekskresi manusia dan hewan.
Polutan radioaktif, berasal dari aktifitas manusia seperti nitrogen, uranium, thorium dan sebagainya.
Limbah urban, berasal dari rumah tangga dan perkotaan seperti plastik, limbah domestik dan materi buangan lain.
Limbah pertanian dan perkebunan, misalnya seperti pestisida, pupuk kimia, zat kapur, kompos dan sebagainya.
Limbah buangan industri, misalnya seperti logam timbal, merkuri, arsenik, nikel dan sebagainya.
Rabu, 18 September 2019
KANDUNGAN MINERAL DI DALAM AIR MINERAL
Idealnya, tubuh kita memerlukan asupan mineral sebanyak 5 persen. Sepintas, 5 persen mungkin tidak ada artinya. Namun, jika yang lima persen itu tidak terpenuhi, dampaknya bisa berbahaya.
Perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Ulul Albab, SpOG menerangkan, Indonesia belum punya riset komperehensif yang memaparkan mineral jenis apa yang paling jarang dikonsumsi masyarakat. Namun, orang dengan kondisi tertentu membutuhkan mineral yang lebih spesifik. Ibu hamil, misalnya, amat membutuhkan mineral zat besi.
“Hemoglobin ibu hamil tergantung pada periode trimester yang sedang dijalani. Normalnya kadar hemoglobin manusia di atas 8 g/dl. Hemoglobin ibu hamil kerap di bawah 8 g/dl. Itu sebabnya di Indonesia, ibu hamil selalu diberi asupan zat besi dan asam folat. Mayoritas masyarakat Indonesia tidak mengalami kekurangan mineral,” Ulul menerangkan.
Bukan berarti mineral menjadi tidak penting. Ulul mengingatkan, mineral berfungsi sebagai kofaktor—senyawa yang penting untuk aktivitas enzim,sekaligus katalisator penyeimbang bagi tubuh manusia. Kekurangan mineral menyebabkan tubuh lebih rentan penyakit.
Ulul mengandaikan mineral tidak ubahnya garam. Tanpa garam secukupnya, sayur hambar. Atau cabai. Tanpa cabai, tumis kurang nendang. “Porsi mineral itu kecil-kecil cabai rawit. Salah satu cara memenuhi kebutuhan mineral, minum air putih. Air komponen penting. Ironisnya, masyarakat perkotaan justru kurang menyadari pentingnya air putih. Mereka lebih suka minuman air berwarna,” Ulul menukas.
Ulul membeberkan sejumlah mineral yang terkandung dalam air putih dan manfaatnya.
1. Kalsium
Menjaga kesehatan tulang dan gigi. Berperan penting dalam proses kontraksi, relaksasi otot, pembekuan darah, dan menunjang imunitas tubuh.
2. Sodium
Menjaga keseimbangan cairan tubuh. Menopang transmisi saraf, kontraksi otot, absorpsi glukosa, dan menjadi alat angkut zat gizi melalui membran sel.
3. Magnesium
Membantu proses pencernaan protein. Memelihara kesehatan otot dan sistem jaringan penghubung. Membantu menghilangkan timbunan lemak di dinding dalam pembuluh darah. Sebagai zat pembentuk sel darah merah berupa zat pengikat oksigen dan hemoglobin.
4. Kalium
Membantu pembentukan sel, pembentukan organ dalam tubuh dan jaringan.
5. Bikarbonat
Memelihara keseimbangan keasaman darah, menyokong proses pencernaan dalam perut.
Itulah manfaat mineral dalam tubuh kita. Di ujung percakapan, Uiul mengingatkan, “Orang yang kekurangan mineral, memiliki ciri-ciri khusus. Misalnya, orang yang kekurangan magnesium, mudah lelah. Namun, jangan dibalik bahwa orang yang gampang lelah berarti kekurangan magnesium. Itu salah. Faktanya, orang yang hemoglobinnya rendah juga mudah lelah. Karenanya, pemeriksaan medis secara berkala penting untuk memantau kondisi kesehatan Anda.”
Adapun, terdapat tujuh mineral penting yang membuat air putih harus dikonsumsi tubuh. Ketujuh mineral yang terkandung dalam air putih yaitu Fluorida, Natrium, Kalsium, Magnesium, Silika, dan Zinc.
air AQUA selama ini memiliki kandungan mineral yang didapatkan secara langsung dari alam. Sehingga mineral dalam air AQUA merupakan mineral alami, seperti natrium, kalium, florida, kalsium, dan magnesium.
Perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Ulul Albab, SpOG menerangkan, Indonesia belum punya riset komperehensif yang memaparkan mineral jenis apa yang paling jarang dikonsumsi masyarakat. Namun, orang dengan kondisi tertentu membutuhkan mineral yang lebih spesifik. Ibu hamil, misalnya, amat membutuhkan mineral zat besi.
“Hemoglobin ibu hamil tergantung pada periode trimester yang sedang dijalani. Normalnya kadar hemoglobin manusia di atas 8 g/dl. Hemoglobin ibu hamil kerap di bawah 8 g/dl. Itu sebabnya di Indonesia, ibu hamil selalu diberi asupan zat besi dan asam folat. Mayoritas masyarakat Indonesia tidak mengalami kekurangan mineral,” Ulul menerangkan.
Bukan berarti mineral menjadi tidak penting. Ulul mengingatkan, mineral berfungsi sebagai kofaktor—senyawa yang penting untuk aktivitas enzim,sekaligus katalisator penyeimbang bagi tubuh manusia. Kekurangan mineral menyebabkan tubuh lebih rentan penyakit.
Ulul mengandaikan mineral tidak ubahnya garam. Tanpa garam secukupnya, sayur hambar. Atau cabai. Tanpa cabai, tumis kurang nendang. “Porsi mineral itu kecil-kecil cabai rawit. Salah satu cara memenuhi kebutuhan mineral, minum air putih. Air komponen penting. Ironisnya, masyarakat perkotaan justru kurang menyadari pentingnya air putih. Mereka lebih suka minuman air berwarna,” Ulul menukas.
Ulul membeberkan sejumlah mineral yang terkandung dalam air putih dan manfaatnya.
1. Kalsium
Menjaga kesehatan tulang dan gigi. Berperan penting dalam proses kontraksi, relaksasi otot, pembekuan darah, dan menunjang imunitas tubuh.
2. Sodium
Menjaga keseimbangan cairan tubuh. Menopang transmisi saraf, kontraksi otot, absorpsi glukosa, dan menjadi alat angkut zat gizi melalui membran sel.
3. Magnesium
Membantu proses pencernaan protein. Memelihara kesehatan otot dan sistem jaringan penghubung. Membantu menghilangkan timbunan lemak di dinding dalam pembuluh darah. Sebagai zat pembentuk sel darah merah berupa zat pengikat oksigen dan hemoglobin.
4. Kalium
Membantu pembentukan sel, pembentukan organ dalam tubuh dan jaringan.
5. Bikarbonat
Memelihara keseimbangan keasaman darah, menyokong proses pencernaan dalam perut.
Itulah manfaat mineral dalam tubuh kita. Di ujung percakapan, Uiul mengingatkan, “Orang yang kekurangan mineral, memiliki ciri-ciri khusus. Misalnya, orang yang kekurangan magnesium, mudah lelah. Namun, jangan dibalik bahwa orang yang gampang lelah berarti kekurangan magnesium. Itu salah. Faktanya, orang yang hemoglobinnya rendah juga mudah lelah. Karenanya, pemeriksaan medis secara berkala penting untuk memantau kondisi kesehatan Anda.”
Adapun, terdapat tujuh mineral penting yang membuat air putih harus dikonsumsi tubuh. Ketujuh mineral yang terkandung dalam air putih yaitu Fluorida, Natrium, Kalsium, Magnesium, Silika, dan Zinc.
air AQUA selama ini memiliki kandungan mineral yang didapatkan secara langsung dari alam. Sehingga mineral dalam air AQUA merupakan mineral alami, seperti natrium, kalium, florida, kalsium, dan magnesium.
Besar PH ozon dalam air minum
Berdasarkan SNI 01-355-2006, air minum dalam kemasan dibagi menjadi dua kelas yaitu air mineral dan air demineral. Beberapa parameter uji yang harus dilakukan pada air minum dalam kemasan
Beberapa parameter tersebut sangatlah penting untuk diuji dalam pembuatan air minum dalam kemasan salah satunya adalah pH.
disebutkan bahwa air minum yang baik memiliki pH yang berkisar dari 6 hingga 8.5. Hal ini diungkapkan oleh World Health Organization (WHO) bahwa jika air minum yang dikonsumsi terlampau basa (pH> 8.5) maka dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit dan jaringan bahkan mengalami gangguan gastrointernal. Sebaliknya, bila pH terlampau asam (pH<4) maka hal yang sama akan terjadi Hal ini tentulah berbahaya, sehingga air minum dalam kemasan diproses sedemikian rupa sehingga kontaminan yang ada di dalamnya dapat diminimalisir dan aman untuk dikonsumsi.
Beberapa cara untuk menaikan nilai pH adalah dengan cara menambahkan calsium atau magnesium carbonate (CaCO3 atau MgCO3). Penambahan ini dapat dilakukan pada monitoring pH pada saat sebelum memasuki tahap desinfektasi. Hal ini karena pH memiliki peran penting dalam proses desinfektasi mikroorganisme. Penggunaan calsium atau magnesium carbonate tidak hanya untuk menaikkan pH namun juga dapat memperkaya mineral sehat yang ada dalam air.
Selain pH, parameter yang harus untuk dilakukan monitoring adalah Total Dissolved solid (TDS) atau total zat terlarut. Jika untuk range pH air minum yang baik berkisar pada 6,0 – 8,5 lain halnya dengan parameter TDS yang tidak boleh melebihi 500 ppm. Hal ini dikarenakan parameter TDS juga melambangkan mineral yang terkandung di dalam air. Mineral – mineral ini dapat digolongkan menjadi 2, yaitu yang berbahaya seperti arsenik, sulfat, bromida, mangan dan lainnya serta yang baik bagi tubuh seperti calsium dan magnesium. Nilai TDS haruslah dimonitoring karena parameter ini akan mempengaruhi rasa pada air yang dikonsumsi. Namun tingginya nilai TDS akan mengakibatkan kerusakan sistem seperti pipa dan reservoir juga turbin. Hal ini disebabkan karena TDS dapat menimbulkan kerak pada sistem.
Beberapa parameter tersebut sangatlah penting untuk diuji dalam pembuatan air minum dalam kemasan salah satunya adalah pH.
disebutkan bahwa air minum yang baik memiliki pH yang berkisar dari 6 hingga 8.5. Hal ini diungkapkan oleh World Health Organization (WHO) bahwa jika air minum yang dikonsumsi terlampau basa (pH> 8.5) maka dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit dan jaringan bahkan mengalami gangguan gastrointernal. Sebaliknya, bila pH terlampau asam (pH<4) maka hal yang sama akan terjadi Hal ini tentulah berbahaya, sehingga air minum dalam kemasan diproses sedemikian rupa sehingga kontaminan yang ada di dalamnya dapat diminimalisir dan aman untuk dikonsumsi.
Beberapa cara untuk menaikan nilai pH adalah dengan cara menambahkan calsium atau magnesium carbonate (CaCO3 atau MgCO3). Penambahan ini dapat dilakukan pada monitoring pH pada saat sebelum memasuki tahap desinfektasi. Hal ini karena pH memiliki peran penting dalam proses desinfektasi mikroorganisme. Penggunaan calsium atau magnesium carbonate tidak hanya untuk menaikkan pH namun juga dapat memperkaya mineral sehat yang ada dalam air.
Selain pH, parameter yang harus untuk dilakukan monitoring adalah Total Dissolved solid (TDS) atau total zat terlarut. Jika untuk range pH air minum yang baik berkisar pada 6,0 – 8,5 lain halnya dengan parameter TDS yang tidak boleh melebihi 500 ppm. Hal ini dikarenakan parameter TDS juga melambangkan mineral yang terkandung di dalam air. Mineral – mineral ini dapat digolongkan menjadi 2, yaitu yang berbahaya seperti arsenik, sulfat, bromida, mangan dan lainnya serta yang baik bagi tubuh seperti calsium dan magnesium. Nilai TDS haruslah dimonitoring karena parameter ini akan mempengaruhi rasa pada air yang dikonsumsi. Namun tingginya nilai TDS akan mengakibatkan kerusakan sistem seperti pipa dan reservoir juga turbin. Hal ini disebabkan karena TDS dapat menimbulkan kerak pada sistem.
Manfaat Ozon Generator
Mengenal Ozone Generator Dalam Sistem Alat Penjernih Air
Mungkin beberapa dari Anda ada yang pernah mengetahui alat penjernih air yang menggunakan ozone. Sementara yang paling familiar, ozone merupakan lapisan di atmosfer yang melindungi bumi dari berbagai kondisi yang tak bersahabat di luar angkasa. Lantas bagaimana aplikasi ozone dalam upaya mencukupi kebutuhan air bersih manusia?
Ozone atau yang dikenal juga dengan Trioxygen (O3) merupakan molekul inorganik yang memiliki ciri warna biru pucat dengan aroma yang khas. Molekul ini terbukti memiliki struktur bengkok serta memiliki sifat diamagnetik. Gas ozone dapat berkondensasi menjadi cairan biru gelap dalam temperatur cyrogenik. Dalam pemanfaatannya, cairan ini kemudian juga dipadatkan hingga berwarna hitam-violet.
Manfaat yang Ditawarkan Ozone Bagi Kehidupan Manusia
Ozone memiliki daya oksidasi yang kuat untuk mengurai berbagai macam gas beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Dengan sifat bawaannya tersebut, ozone dapat menetralisir dan mengurai CO, Ammonium, Sulfat, Metana serta berbagai macam unsur berbahaya lain. Beberapa bidang industri kemudian memanfaatkan daya oksidasi ini.
Sementara manfaat lain yang tak kalah penting dari ozone adalah kemampuannya membunuh kuman, bakteri dan virus. Kemampuan inilah yang kemudian membuat ozone juga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan medis. Banyak instansi kesehatan dan klinik yang menggunakan ozone pada alat penjernih air mereka.
Beberapa Bentuk Pemanfaatan Ozone Generator
• Mengurai sisa pestisida pada buah-buahan maupun sayur-sayuran
• Mencegah pertumbuhan spora dan mikroorganisme pembusukan
• Membuat buah dan sayur tidak mudah membusuk dan memperpajang kesegarannya
• Menghilangkan bau amis pada bahan makanan berupa daging dan menjaga kesegarannya
• Menghilangkan bau tidak sedap, misalnya di air, penyimpanan makanan bahkan dalam ruangan
• Mensterilkan alat-alat makan, alat medis, alat-alat industri, tanaman dan barang lain sebagainya
• Efektif menggantikan kaporite untuk kebutuhan air kolam renang, spa dan lain sebagainya
• Mengurai Toluena, Formaldehyde, bau asap rokok, bau lembab, bau bekas kebakaran maupun gas berbahaya lain di dalam ruangan
• Untuk terapi kesehatan meliputi melancarkan sirkulasi darah,metabolisme, aktifasi sel dan lain-lain
• Meningkatkan kualitas air dengan mematikan kuman, bakteri dan virus sekaligus meningkatkan kadar oksigen pada air seperti yang digunakan dalam perusahaan AMDK maupun depot air minum isi ulang
• Pembuatan air ozone untuk kebutuhan medis dan rumah sakit
• Mengurai limbah (pabrik, perusahaan maupun hunian)
• Menghambat pertumbuhan lumut di tempat penampungan air
Baca Juga membrane mesin ro
Aplikasi Ozone Generator Pada Proses Pengolahan Air
Gas ozone dapat dimanipulasi oleh manusia melalui mekanisme tertentu agar dapat dimanfaatkan lebih luas dalam berbagai segi kehidupan manusia, termasuk halnya penyediaan air bersih. Alat penjernih air misalnya, mengandalkan ozone generator sebagai pengolah air hasil penyaringan sebelumnya agar menjadi air yang lebih aman atau lebih bernilai.
Ozone generator merupakan alat yang dapat merubah Oxygen (O2) ke Trioxygen (O3). Sementara dalam teknologi pengolahan air, alat ini banyak digunakan sebagai disinfektan, pengawet air sekaligus meningkatkan kadar Oxygen terlarut. Inilah yang menjadi nilai jual utama dari keberadaan ozone generator dalam sistem pengolah air.
Generator dapat memproduksi gas ozone menggunakan listrik bertegangan tinggi ±80.000V yang menghasilkan kilat listrik di kutub anoda dan katoda. Oksigen dialirkan ke reaktor ozon sehingga molekulnya terpecah dari O2 menjadi O3 dan membentuk ozone. Untuk pengolahan air, ozone generator dapat membuat air mengandung ozone.
Ozonisasi dalam alat penjernih air merupakan proses untuk membuat air memiliki kandungan ozone di dalamnya. Air yang akan melalui proses ozonisasi sendiri merupakan air yang sudah bersih melalui berbagai proses filtrasi sesuai kondisi air baku kemudian dipaparkan ke ozone generator. Hasilnya, bukan sekedar air yang jernih tidak berbau dan tidak berasa saja melainkan air yang memiliki kadar oksigen lebih tinggi dan memiliki kesegaran yang lebih tahan lama.
Ozone generator sendiri dibuat dalam ukuran yang semakin beragam menyesuaikan dengan kebutuhan penggunaannya. Beberapa diantaranya banyak digunakan untuk kebutuhan usaha air minum dalam kemasan (AMDK), menara pendingin, penampungan air , pembersih mobil, kolam renang, industri seperti tekstil dan lain sebagainya.
manfaat ozone generator
4 (80%) 1 vote
Baca Juga Cara Penjernihan Air
Penjernihan air sumur dengan kaporite » « membrane mesin ro
Mungkin beberapa dari Anda ada yang pernah mengetahui alat penjernih air yang menggunakan ozone. Sementara yang paling familiar, ozone merupakan lapisan di atmosfer yang melindungi bumi dari berbagai kondisi yang tak bersahabat di luar angkasa. Lantas bagaimana aplikasi ozone dalam upaya mencukupi kebutuhan air bersih manusia?
Ozone atau yang dikenal juga dengan Trioxygen (O3) merupakan molekul inorganik yang memiliki ciri warna biru pucat dengan aroma yang khas. Molekul ini terbukti memiliki struktur bengkok serta memiliki sifat diamagnetik. Gas ozone dapat berkondensasi menjadi cairan biru gelap dalam temperatur cyrogenik. Dalam pemanfaatannya, cairan ini kemudian juga dipadatkan hingga berwarna hitam-violet.
Manfaat yang Ditawarkan Ozone Bagi Kehidupan Manusia
Ozone memiliki daya oksidasi yang kuat untuk mengurai berbagai macam gas beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Dengan sifat bawaannya tersebut, ozone dapat menetralisir dan mengurai CO, Ammonium, Sulfat, Metana serta berbagai macam unsur berbahaya lain. Beberapa bidang industri kemudian memanfaatkan daya oksidasi ini.
Sementara manfaat lain yang tak kalah penting dari ozone adalah kemampuannya membunuh kuman, bakteri dan virus. Kemampuan inilah yang kemudian membuat ozone juga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan medis. Banyak instansi kesehatan dan klinik yang menggunakan ozone pada alat penjernih air mereka.
Beberapa Bentuk Pemanfaatan Ozone Generator
• Mengurai sisa pestisida pada buah-buahan maupun sayur-sayuran
• Mencegah pertumbuhan spora dan mikroorganisme pembusukan
• Membuat buah dan sayur tidak mudah membusuk dan memperpajang kesegarannya
• Menghilangkan bau amis pada bahan makanan berupa daging dan menjaga kesegarannya
• Menghilangkan bau tidak sedap, misalnya di air, penyimpanan makanan bahkan dalam ruangan
• Mensterilkan alat-alat makan, alat medis, alat-alat industri, tanaman dan barang lain sebagainya
• Efektif menggantikan kaporite untuk kebutuhan air kolam renang, spa dan lain sebagainya
• Mengurai Toluena, Formaldehyde, bau asap rokok, bau lembab, bau bekas kebakaran maupun gas berbahaya lain di dalam ruangan
• Untuk terapi kesehatan meliputi melancarkan sirkulasi darah,metabolisme, aktifasi sel dan lain-lain
• Meningkatkan kualitas air dengan mematikan kuman, bakteri dan virus sekaligus meningkatkan kadar oksigen pada air seperti yang digunakan dalam perusahaan AMDK maupun depot air minum isi ulang
• Pembuatan air ozone untuk kebutuhan medis dan rumah sakit
• Mengurai limbah (pabrik, perusahaan maupun hunian)
• Menghambat pertumbuhan lumut di tempat penampungan air
Baca Juga membrane mesin ro
Aplikasi Ozone Generator Pada Proses Pengolahan Air
Gas ozone dapat dimanipulasi oleh manusia melalui mekanisme tertentu agar dapat dimanfaatkan lebih luas dalam berbagai segi kehidupan manusia, termasuk halnya penyediaan air bersih. Alat penjernih air misalnya, mengandalkan ozone generator sebagai pengolah air hasil penyaringan sebelumnya agar menjadi air yang lebih aman atau lebih bernilai.
Ozone generator merupakan alat yang dapat merubah Oxygen (O2) ke Trioxygen (O3). Sementara dalam teknologi pengolahan air, alat ini banyak digunakan sebagai disinfektan, pengawet air sekaligus meningkatkan kadar Oxygen terlarut. Inilah yang menjadi nilai jual utama dari keberadaan ozone generator dalam sistem pengolah air.
Generator dapat memproduksi gas ozone menggunakan listrik bertegangan tinggi ±80.000V yang menghasilkan kilat listrik di kutub anoda dan katoda. Oksigen dialirkan ke reaktor ozon sehingga molekulnya terpecah dari O2 menjadi O3 dan membentuk ozone. Untuk pengolahan air, ozone generator dapat membuat air mengandung ozone.
Ozonisasi dalam alat penjernih air merupakan proses untuk membuat air memiliki kandungan ozone di dalamnya. Air yang akan melalui proses ozonisasi sendiri merupakan air yang sudah bersih melalui berbagai proses filtrasi sesuai kondisi air baku kemudian dipaparkan ke ozone generator. Hasilnya, bukan sekedar air yang jernih tidak berbau dan tidak berasa saja melainkan air yang memiliki kadar oksigen lebih tinggi dan memiliki kesegaran yang lebih tahan lama.
Ozone generator sendiri dibuat dalam ukuran yang semakin beragam menyesuaikan dengan kebutuhan penggunaannya. Beberapa diantaranya banyak digunakan untuk kebutuhan usaha air minum dalam kemasan (AMDK), menara pendingin, penampungan air , pembersih mobil, kolam renang, industri seperti tekstil dan lain sebagainya.
manfaat ozone generator
4 (80%) 1 vote
Baca Juga Cara Penjernihan Air
Penjernihan air sumur dengan kaporite » « membrane mesin ro
Penggunaan Ozon Generator dalam Air depot isi Ulang
Ozon adalah molekul gas alami yang mudah larut dalam air dan tidak beracun. Di alam, ozon ditemukan di lapisan luar dari atmosfir dan berfungsi sebagai tameng terhadap radiasi ultra violet sinar matahari yang dapat menyebabkan penyakit kanker kulit. Di permukaan bumi, ozon dikenali dengan aroma segar antiseptik yang muncul setelah hujan guntur. Ozon-lah yang menimbulkan perasaan santai karena menghirup udara segar dan bersih di sekitar air terjun dan di pantai yang berombak.
Ozon adalah molekul gas yang terdiri 3 atom Oksigen dan mempunyai rumus kimia O3. Molekul Ozon bersifat tidak stabil dan akan selalu berusaha mencari ‘sasaran’ untuk dapat melepaskan satu atom Oksigen dengan cara oksidasi, sehingga dapat berubah menjadi molekul oksigen yang stabil (O2). Karena sifat oksidatornya yang sangat kuat, maka Ozon sangat unggul untuk disinfeksi (membunuh kuman), detoksifikasi (menetralkan zat beracun) dan deodorisasi (menghilangkan bau tidak enak) dalam air dan udara.
Dalam hal disinfeksi / sterilisasi air, teknologi Ozon paling unggul dan sangat efektif. Ozon dapat menghancurkan kuman, bakteri, virus, jamur, spora, kista, lumut dan zat organik lainnya. Selain itu, juga dapat menetralisir zat organik / mineral yang berlebihan / beracun. Penggunaan Ozon tidak menghasilkan zat sisa yang membahayakan kesehatan. Bahkan sebaliknya, akan menambahkan kadar olsigen dalam air sehingga lebih segar dan sehat.
Selain itu, teknologi Ozon juga digunakan untuk meningkatkan kualitas air danau / tambak / sungai yang tercemar dan pengolahan limbah pabrik. Ozon juga menghilangkanbau tidak sedap di pabrik / rumah / kantor / mobil seperti bau asap rokok, bau cat, bau karpet baru, dsb. Pengobatan ikan dalam akuarium juga telah menggunakan teknologi ozon. Kolam renang dan spa modern menggunakan ozon untuk menjernihkan dan me4mbunuh kuman. Karenanya, iritasi mata / mata merah sehabis berenang tidak lagi menjadi masalah.
Aplikasi teknologi Ozon yang lain misalnya dalam industri pengolahan daging, dan proses pengawetan buah dan sayur dalam pengiriman. Daging, buah dan sayuran tersebut disimpan dalam udara yang berozon dan dicuci dengan menggunakan air berozon untuk mengurangi efek zat-zat beracunseperti pestisida / herbisida, untuk meningkatkan penampilan, kesegaran dan untuk memperlambat pembusukan.
Karena sifatnya yang alami dan ramah lingkungan, penggunaan teknologi Ozon akan terus berkembang dengan pesat. Ozon, hal sederhana yang mempunyai manfaat besar.
Depot air minum isi ulang adalah usaha industri yang merupakan proses pengolahan air baku menjadi air minum yang kemudian dapat di jual langsung kepada konsumen. Proses pengolahan air pada depot air minum isi ulang pada prinsipnya adalah proses penyaringan (filtrasi) dan proses pemusnahan mikroorganisme (desinfeksi). Proses penyaringan bertujuan untuk memisahkan kontaminan tersuspensi juga memisahkan campuran yang berbentuk koloid termasuk mikroorganisme dari dalam air, sedangkan proses desinfeksi adalah bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang tidak tersaring pada proses sebelumnya. .
Peralatan Depot Air Minum Isi Ulang
Alat-alat yang digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum pada depot air minum isi ulang adalah :
Storage Tank.
Storage Tank adalah untuk penampungan air baku yang dapat menampung air sebanyak 3000 liter.
Stainless Water Pump.
Stainless Water Pump adalah untuk memompa air baku dari tempat storage tank ke dalam tabung filter.
Tabung Filter.
Tabung filter mempunyai tiga fungsi, yaitu :
Tabung yang pertama adalah active sand media filter berguna untuk menyaring partikel-partikel yang kasar dengan bahan dari pasir atau jenis lain yang efektif dengan fungsi yang sama.
Tabung yang kedua adalah anthracite filter yang berguna untuk menghilangkan kekeruhan air dengan hasil yang maksimal dan efisien.
Tabung yang ketiga adalah granular active carbon media filter yang adalah karbon filter yang berfungsi sebagai penyerap debu, rasa, warna sisa khlor dan bahan organik.
Micro Filter.
Saringan air yang terbuat dari polyprophylene fiber yang berguna untuk menyaring partikel air dengan diameter 10 mikron, 5 mikron, 1 mikron dan 0,4 mikron yang bertujuan untuk memenuhi persyaratan standar air minum yang bersih dan sehat.
Flow Meter.
Flow Meter adalah alat untuk mengukur air yang mengalir ke dalam galon isi ulang.
Lampu ultraviolet dan ozon.
Lampu ultraviolet dan ozon berfungsi untuk desinfeksi/sterilisasi pada air yang telah diolah.
Galon isi ulang.
Galon isi ulang merupakan tempat atau wadah untuk menampung atau menyimpan air minum di dalamnya.
Pengisian tempat atau wadah dilakukan dengan menggunakan alat dan mesin serta dilakukan dalam tempat pengisian yang hygienis.
Persyaratan Proses Produksi Depot Air Minum Isi Ulang
Menurut Keputusan Menperindag RI Nomor 651 / MPP / Kep / 10 / 2004 tentang Persyaratan Teknis Depot Air Minum dan Perdagangannya, urutan proses produksi air minum di depot air minum isi ulang adalah sebagai berikut :
Penampungan air baku dan syarat bak penampung depot air minum isi ulang
Air baku yang diambil dari sumbernya diangkut menggunakan tangki kemudian ditampung dalam bak atau tangki penampung (reservoir). Bak penampung harus dibuat dari bahan tara pangan (food grade), yaitu bebas dari bahan-bahan yang dapat mencemari air. Tangki pengangkutan harus memiliki persyaratan yang terdiri dari :
Tangki khusus digunakan untuk air minum.
Tangki mudah dibersihkan serta di desinfektan dan diberi pengaman.
Tangki harus mempunyai manhole.
Tangki pengisian dan pengeluaran air harus menggunakan kran.
Selang dan pompa yang dipakai untuk bongkar muat air baku harus memiliki penutup yang baik, disimpan dengan aman dan dilindungi dari kontaminasi.
Tangki, galang, pompa dan sambungan harus terbuat dari bahan tara pangan (food grade), tahan terhadap korosi dan bahan kimia yang dapat mencemari air. Tangki pengangkutan harus selalu dibersihkan, disanitasi dan desinfeksi bagian luar dan setidaknya minimal 3 (tiga) bulan sekali.
Penyaringan Air Minum
Penyaringan bertahap terdiri atas:
Saringan berasal dari pasir atau saringan lain yang efektif dengan fungsi yang sama. Fungsi saringan pasir adalah menyaring partikel-partikel yang kasar. Bahan yang dipakai adalah butir-butir silica (SiO2) minimal 80%.
Saringan karbon aktif yang berasal dari batu bara atau batok kelapa berfungsi sebagai penyerap bau, rasa, warna, sisa khlor dan bahan organik. Daya serap terhadap Iodine (I2) minimal 75%.
Saringan/Filter lainnya yang berfungsi sebagai saringan halus berukuran maksimal 10 (sepuluh) micron.
Desinfeksi Air Minum
Desinfeksi dilakukan untuk membunuh kuman patogen. Proses desinfeksi dengan menggunakan ozon (O3) terjadi dalam tangki atau alat pencampur ozon lainnya dengan konsentrasi ozon minimal 0,1 ppm dan residu ozon yaitu sesaat setelah pengisian berkisar antara 0,06 – 0,1 ppm. Tindakan desinfeksi selain menggunakan ozon, dapat juga dilakukan dengan cara penyinaran Ultra Violet (UV) dengan panjang gelombang 254 nm atau kekuatan 25370 A dengan intensitas minimum 10.000 mw detik per cm².
Pembilasan, Pencucian dan Sterilisasi Wadah Air Minum
Wadah yang dapat digunakan adalah wadah yang terbuat dari bahan tara pangan (food grade) dan bersih. Depot air minum wajib memeriksa wadah yang dibawa konsumen dan menolak wadah yang dianggap tidak layak untuk digunakan sebagai tempat air minum. Wadah yang akan diisi harus disanitasi dengan menggunakan ozon (O3) atau air ozon (air yang mengandung ozon).
Apabila dilakukan pencucian wadah, harus dilakukan dengan menggunakan jenis-jenis deterjen yang tara pangan (food grade) dan menggunakan air bersih dengan suhu berkisar 60-850C, kemudian dibilas dengan air minum/air produk secukupnya untuk menghilangkan sisa-sisa deterjen yang dipergunakan untuk mencuci.
Pengisian Air Minum
Pengisian wadah yaitu menggunakan alat dan mesin serta dilakukan dalam tempat pengisian yang hygienis.
Ozon adalah molekul gas yang terdiri 3 atom Oksigen dan mempunyai rumus kimia O3. Molekul Ozon bersifat tidak stabil dan akan selalu berusaha mencari ‘sasaran’ untuk dapat melepaskan satu atom Oksigen dengan cara oksidasi, sehingga dapat berubah menjadi molekul oksigen yang stabil (O2). Karena sifat oksidatornya yang sangat kuat, maka Ozon sangat unggul untuk disinfeksi (membunuh kuman), detoksifikasi (menetralkan zat beracun) dan deodorisasi (menghilangkan bau tidak enak) dalam air dan udara.
Dalam hal disinfeksi / sterilisasi air, teknologi Ozon paling unggul dan sangat efektif. Ozon dapat menghancurkan kuman, bakteri, virus, jamur, spora, kista, lumut dan zat organik lainnya. Selain itu, juga dapat menetralisir zat organik / mineral yang berlebihan / beracun. Penggunaan Ozon tidak menghasilkan zat sisa yang membahayakan kesehatan. Bahkan sebaliknya, akan menambahkan kadar olsigen dalam air sehingga lebih segar dan sehat.
Selain itu, teknologi Ozon juga digunakan untuk meningkatkan kualitas air danau / tambak / sungai yang tercemar dan pengolahan limbah pabrik. Ozon juga menghilangkanbau tidak sedap di pabrik / rumah / kantor / mobil seperti bau asap rokok, bau cat, bau karpet baru, dsb. Pengobatan ikan dalam akuarium juga telah menggunakan teknologi ozon. Kolam renang dan spa modern menggunakan ozon untuk menjernihkan dan me4mbunuh kuman. Karenanya, iritasi mata / mata merah sehabis berenang tidak lagi menjadi masalah.
Aplikasi teknologi Ozon yang lain misalnya dalam industri pengolahan daging, dan proses pengawetan buah dan sayur dalam pengiriman. Daging, buah dan sayuran tersebut disimpan dalam udara yang berozon dan dicuci dengan menggunakan air berozon untuk mengurangi efek zat-zat beracunseperti pestisida / herbisida, untuk meningkatkan penampilan, kesegaran dan untuk memperlambat pembusukan.
Karena sifatnya yang alami dan ramah lingkungan, penggunaan teknologi Ozon akan terus berkembang dengan pesat. Ozon, hal sederhana yang mempunyai manfaat besar.
Depot air minum isi ulang adalah usaha industri yang merupakan proses pengolahan air baku menjadi air minum yang kemudian dapat di jual langsung kepada konsumen. Proses pengolahan air pada depot air minum isi ulang pada prinsipnya adalah proses penyaringan (filtrasi) dan proses pemusnahan mikroorganisme (desinfeksi). Proses penyaringan bertujuan untuk memisahkan kontaminan tersuspensi juga memisahkan campuran yang berbentuk koloid termasuk mikroorganisme dari dalam air, sedangkan proses desinfeksi adalah bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang tidak tersaring pada proses sebelumnya. .
Peralatan Depot Air Minum Isi Ulang
Alat-alat yang digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum pada depot air minum isi ulang adalah :
Storage Tank.
Storage Tank adalah untuk penampungan air baku yang dapat menampung air sebanyak 3000 liter.
Stainless Water Pump.
Stainless Water Pump adalah untuk memompa air baku dari tempat storage tank ke dalam tabung filter.
Tabung Filter.
Tabung filter mempunyai tiga fungsi, yaitu :
Tabung yang pertama adalah active sand media filter berguna untuk menyaring partikel-partikel yang kasar dengan bahan dari pasir atau jenis lain yang efektif dengan fungsi yang sama.
Tabung yang kedua adalah anthracite filter yang berguna untuk menghilangkan kekeruhan air dengan hasil yang maksimal dan efisien.
Tabung yang ketiga adalah granular active carbon media filter yang adalah karbon filter yang berfungsi sebagai penyerap debu, rasa, warna sisa khlor dan bahan organik.
Micro Filter.
Saringan air yang terbuat dari polyprophylene fiber yang berguna untuk menyaring partikel air dengan diameter 10 mikron, 5 mikron, 1 mikron dan 0,4 mikron yang bertujuan untuk memenuhi persyaratan standar air minum yang bersih dan sehat.
Flow Meter.
Flow Meter adalah alat untuk mengukur air yang mengalir ke dalam galon isi ulang.
Lampu ultraviolet dan ozon.
Lampu ultraviolet dan ozon berfungsi untuk desinfeksi/sterilisasi pada air yang telah diolah.
Galon isi ulang.
Galon isi ulang merupakan tempat atau wadah untuk menampung atau menyimpan air minum di dalamnya.
Pengisian tempat atau wadah dilakukan dengan menggunakan alat dan mesin serta dilakukan dalam tempat pengisian yang hygienis.
Persyaratan Proses Produksi Depot Air Minum Isi Ulang
Menurut Keputusan Menperindag RI Nomor 651 / MPP / Kep / 10 / 2004 tentang Persyaratan Teknis Depot Air Minum dan Perdagangannya, urutan proses produksi air minum di depot air minum isi ulang adalah sebagai berikut :
Penampungan air baku dan syarat bak penampung depot air minum isi ulang
Air baku yang diambil dari sumbernya diangkut menggunakan tangki kemudian ditampung dalam bak atau tangki penampung (reservoir). Bak penampung harus dibuat dari bahan tara pangan (food grade), yaitu bebas dari bahan-bahan yang dapat mencemari air. Tangki pengangkutan harus memiliki persyaratan yang terdiri dari :
Tangki khusus digunakan untuk air minum.
Tangki mudah dibersihkan serta di desinfektan dan diberi pengaman.
Tangki harus mempunyai manhole.
Tangki pengisian dan pengeluaran air harus menggunakan kran.
Selang dan pompa yang dipakai untuk bongkar muat air baku harus memiliki penutup yang baik, disimpan dengan aman dan dilindungi dari kontaminasi.
Tangki, galang, pompa dan sambungan harus terbuat dari bahan tara pangan (food grade), tahan terhadap korosi dan bahan kimia yang dapat mencemari air. Tangki pengangkutan harus selalu dibersihkan, disanitasi dan desinfeksi bagian luar dan setidaknya minimal 3 (tiga) bulan sekali.
Penyaringan Air Minum
Penyaringan bertahap terdiri atas:
Saringan berasal dari pasir atau saringan lain yang efektif dengan fungsi yang sama. Fungsi saringan pasir adalah menyaring partikel-partikel yang kasar. Bahan yang dipakai adalah butir-butir silica (SiO2) minimal 80%.
Saringan karbon aktif yang berasal dari batu bara atau batok kelapa berfungsi sebagai penyerap bau, rasa, warna, sisa khlor dan bahan organik. Daya serap terhadap Iodine (I2) minimal 75%.
Saringan/Filter lainnya yang berfungsi sebagai saringan halus berukuran maksimal 10 (sepuluh) micron.
Desinfeksi Air Minum
Desinfeksi dilakukan untuk membunuh kuman patogen. Proses desinfeksi dengan menggunakan ozon (O3) terjadi dalam tangki atau alat pencampur ozon lainnya dengan konsentrasi ozon minimal 0,1 ppm dan residu ozon yaitu sesaat setelah pengisian berkisar antara 0,06 – 0,1 ppm. Tindakan desinfeksi selain menggunakan ozon, dapat juga dilakukan dengan cara penyinaran Ultra Violet (UV) dengan panjang gelombang 254 nm atau kekuatan 25370 A dengan intensitas minimum 10.000 mw detik per cm².
Pembilasan, Pencucian dan Sterilisasi Wadah Air Minum
Wadah yang dapat digunakan adalah wadah yang terbuat dari bahan tara pangan (food grade) dan bersih. Depot air minum wajib memeriksa wadah yang dibawa konsumen dan menolak wadah yang dianggap tidak layak untuk digunakan sebagai tempat air minum. Wadah yang akan diisi harus disanitasi dengan menggunakan ozon (O3) atau air ozon (air yang mengandung ozon).
Apabila dilakukan pencucian wadah, harus dilakukan dengan menggunakan jenis-jenis deterjen yang tara pangan (food grade) dan menggunakan air bersih dengan suhu berkisar 60-850C, kemudian dibilas dengan air minum/air produk secukupnya untuk menghilangkan sisa-sisa deterjen yang dipergunakan untuk mencuci.
Pengisian Air Minum
Pengisian wadah yaitu menggunakan alat dan mesin serta dilakukan dalam tempat pengisian yang hygienis.
Minggu, 15 September 2019
Pengolahan Air Minum Isi Ulang
Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Didalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air.
Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80 %.
Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari.
Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut :
1. Syarat Fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
2. Syarat Bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3. Syarat Kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia. Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang ideal antara lain sebagai berikut :
--------------------------------------------------------------------
Jenis Bahan Kadar yang Dibenarkan (mg/liter)
--------------------------------------------------------------------
Fluor (F) 1-1,5
Chlor (Cl) 250
Arsen (As) 0,05
Tembaga (Cu) 1,0
Besi (Fe) 0,3
Zat organik 10
Ph (keasaman) 6,5-9,0
CO2 0
--------------------------------------------------------------------
Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.
Sumber-Sumber Air Minum
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut :
1. Air Hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. Air Sungai dan Danau
Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
3. Mata Air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air Sumur Dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.
5. Air Sumur Dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).
Pengolahan Air Minum Secara Sederhana
Seperti telah disebutkan didalam uraian terdahulu bahwa air minum yang sehat harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung (protected) sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.
Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :
1. Pengolahan Secara Alamiah
Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya. Didalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.
2. Pengolahan Air dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Lebih lanjut akan diuraikan kemudian. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.
3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya chlor).
4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni :
5.1 Pengolahan Air Minum untuk Umum
5.1.1 Penampungan Air Hujan
Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum.
Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.
5.1.2 Pengolahan Air Sungai
Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.
5.1.3 Pengolahan Mata Air
Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.
5.2 Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga
5.2.1 Air Sumur
Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.
Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut :
- Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke
dalamnya.
- Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar
air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.
- Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi
kekeruhan.
Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).
Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.
5.2.2 Air Hujan
Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing-masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon (storage) untuk musim kemarau.
Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80 %.
Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari.
Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut :
1. Syarat Fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
2. Syarat Bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3. Syarat Kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia. Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang ideal antara lain sebagai berikut :
--------------------------------------------------------------------
Jenis Bahan Kadar yang Dibenarkan (mg/liter)
--------------------------------------------------------------------
Fluor (F) 1-1,5
Chlor (Cl) 250
Arsen (As) 0,05
Tembaga (Cu) 1,0
Besi (Fe) 0,3
Zat organik 10
Ph (keasaman) 6,5-9,0
CO2 0
--------------------------------------------------------------------
Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.
Sumber-Sumber Air Minum
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut :
1. Air Hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. Air Sungai dan Danau
Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
3. Mata Air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air Sumur Dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.
5. Air Sumur Dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).
Pengolahan Air Minum Secara Sederhana
Seperti telah disebutkan didalam uraian terdahulu bahwa air minum yang sehat harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung (protected) sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.
Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :
1. Pengolahan Secara Alamiah
Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya. Didalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.
2. Pengolahan Air dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Lebih lanjut akan diuraikan kemudian. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.
3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya chlor).
4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni :
5.1 Pengolahan Air Minum untuk Umum
5.1.1 Penampungan Air Hujan
Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum.
Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.
5.1.2 Pengolahan Air Sungai
Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.
5.1.3 Pengolahan Mata Air
Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.
5.2 Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga
5.2.1 Air Sumur
Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.
Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut :
- Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke
dalamnya.
- Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar
air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.
- Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi
kekeruhan.
Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).
Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.
5.2.2 Air Hujan
Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing-masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon (storage) untuk musim kemarau.
Pengolahan Air Minum PDAM
PDAM merupakan perusahaan milik daerah yang bergerak di bidang pengolahan dan pendistribusian air bersih.Beberapa fasilitas yang dimilki dalam pemprosesan air bersih antara lain : intake, menara air, clarifier, pulsator, filter, dan reservoir. Semua perlatan – peralatan tadi dapat dioperasikan melalui system computer yang ada. Selain berbagai macam peralatan, PDAM juga menggunakan bahan kimia seperti : kaporit dan tawas dalam proses pengolahan air bersih. Air yang diproduksi dipantau kualitasnya oleh laboratorium. Sehingga air yang dihasilkan selalu memenuhi standar kesehatan air bersih.
1. Intake
Intake merupakan bangunan yang berfungsi untuk menangkap air dari badan air (sungai) sesuai dengan debit yang diperlukan bagi pengolahan air bersih.
2. Menara air baku
Menara air baku berfungsi mengontrol dan mengatur laju alir dan tinggi permukaan air baku agar tetap konstan, sehingga proses pengolahan berupa pembubuhan bahan kimia, koagulasi, pengendapan, dan penyaringan dapat berjalan dengan baik serta maksimal.
3. Clarifier
Clarifier sebagai tempat terjadinya koagulasi. Di Clarifier air dibersihkan dari kotoran-kotoran dengan cara mengendapkan kotoran-kotoran yang terdapat didalam air tersebut pada lamlar yang berupa jaring-jaring besi pada bagian bawah Clarifier. Kotoran-kotoran yang mengendap akan dibuang melalui pipa saluran pembuangan.
4. Rapid mixing (bangunan pengaduk cepat)
Bangunan pengaduk cepat berfungsi sebagai tempat pencampuran koagulan dengan air baku sehingga terjadi proses koagulasi.
5. Slow mixing (bangunan pengaduk lambat)
Proses pengadukan lambat (slow mixing) terjadi pada pulsator
Di sini flok – flok yang lebih besar akan terbentuk dan stabil, sehingga akan lebih mudah untuk diendapkan dan disaring. Cara kerja pulsator yaitu dengan sistem ruang hampa bekerja dengan menaikkan dan menurunkan air, sehingga flok – flok yang ada dapat bercampur. Lumpur dari endapan partikel flokulen dibuang setiap 15 (lima belas) menit sekali. Setelah mengalami proses pada pulsator, diharapkan tingkat kekeruhan air mencapai 1 FTU yang selanjutnya akan diproses di filter.
6. Bangunan filtrasi
Bangunan filtrasi yang berfungsi sebagai tempat proses penyaringan butir-butir yang tidak ikut terendap pada bak sedimentasi dan juga berfungsi sebagai penyaring mikroorganisme atau bakteri yang ikut larut dalam air. Bangunan filtrasi biasanya menggunakan pasir silica yang berwarna hitam setebal 80 cm dan juga kerikil. Pasir ini digunakan karena lebih berat dan lebih menempel flok-floknya.
7. Reservoir
Bangunan reservoir merupakan bangunan tempat penampungan air bersih yang telah diolah sebelum didistribusikan ke rumah-rumah pelanggan.
Proses pengolahan nya, dibagi menjadi beberapa tahap yaitu:
Penyaringan dan Pengendapan
Penyaringan dan pengendapan bertujuan untuk memisahkan air baku dari zat-zat, seperti: sampah, daun, rumput, pasir dan lain-lain berdasarkan berat jenis zat.
Koagulasi
Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia Al2(SO4)3 (Tawas) kedalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan resuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap.
Flokulasi
Flokulasi adalah proses pembentukan flok sebagai akibat gabungan dari koloid-koloid dalam air baku (air sungai) dengan koagulan. Pembentukan flok akan terjadi dengan baik jika di tambahkan koagulan kedalam air baku (air sungai) kemudian dilakukan pengadukan lambat.
Sedimentasi
Setelah proses koagulasi dan flokulasi, air tersebut di diamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua. Setelah kotoran mengendap air akan tampak lebih jernih.
Filtrasi
Pada proses pengendapan tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir silika.
Desinfeksi
Pemberian desinfektan (gas khlor) pada air hasil penyaringan bertujuan agar dapat mereduksi konsentrasi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri pathogen (bakteri penyebeb penyakit).
Pengolahan Air Limbah 2
Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) (wastewater treatment plant, WWTP), adalah sebuah struktur yang dirancang untuk membuang limbah biologis dan kimiawi dari air sehingga memungkinkan air tersebut untuk digunakan pada aktivitas yang lain. Fungsi dari IPAL mencakup:
Pengolahan air limbah pertanian, untuk membuang kotoran hewan, residu pestisida, dan sebagainya dari lingkungan pertanian.
Pengolahan air limbah perkotaan, untuk membuang limbah manusia dan limbah rumah tangga lainnya.
Pengolahan air limbah industri, untuk mengolah limbah cair dari aktivitas manufaktur sebuah industri dan komersial, termasuk juga aktivitas pertambangan.
Meski demikian, dapat juga didesain sebuah fasilitas pengolahan tunggal yang mampu melakukan beragam fungsi.[1] Beberapa metode seperti biodegradasi diketahui tidak mampu menangani air limbah secara efektif, terutama yang mengandung bahan kimia berbahaya
Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, daur ulang, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, atau estetika. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam (resources recovery). Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan meWtode dan keterampilan khusus untuk masing-masing jenis zat.
Praktik pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan dan antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.
Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal, di antaranya tipe zat sampah, lahan yang digunakan untuk mengolah, dan ketersediaan lahan.
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan:
mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis (pemanfaatan sampah), atau
mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai, lubang bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang higienis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, di antaranya angin yang berbau sampah, menarik berkumpulnya hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas metana dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya.
Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern di antaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau plastik pelapis. Sampah biasanya dipadatkan untuk mengurangi volume dan menambah kestabilannya, dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.
Proses pemilahan sampah yang masih memiliki nilai secara materiil untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang (reuse). Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil energi dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik.
Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.
Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminium, kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET, botol kaca, kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa didaur ulang. Daur ulang dari produk yang kompleks seperti komputer atau mobil lebih susah, karena bagian-bagiannya harus diurai dan dikelompokkan menurut jenis bahannya.
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan "pencegahan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tisu), dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman
Pengolahan air limbah pertanian, untuk membuang kotoran hewan, residu pestisida, dan sebagainya dari lingkungan pertanian.
Pengolahan air limbah perkotaan, untuk membuang limbah manusia dan limbah rumah tangga lainnya.
Pengolahan air limbah industri, untuk mengolah limbah cair dari aktivitas manufaktur sebuah industri dan komersial, termasuk juga aktivitas pertambangan.
Meski demikian, dapat juga didesain sebuah fasilitas pengolahan tunggal yang mampu melakukan beragam fungsi.[1] Beberapa metode seperti biodegradasi diketahui tidak mampu menangani air limbah secara efektif, terutama yang mengandung bahan kimia berbahaya
Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, daur ulang, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, atau estetika. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam (resources recovery). Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan meWtode dan keterampilan khusus untuk masing-masing jenis zat.
Praktik pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan dan antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.
Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal, di antaranya tipe zat sampah, lahan yang digunakan untuk mengolah, dan ketersediaan lahan.
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan:
mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis (pemanfaatan sampah), atau
mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai, lubang bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang higienis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, di antaranya angin yang berbau sampah, menarik berkumpulnya hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas metana dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya.
Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern di antaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau plastik pelapis. Sampah biasanya dipadatkan untuk mengurangi volume dan menambah kestabilannya, dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.
Proses pemilahan sampah yang masih memiliki nilai secara materiil untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang (reuse). Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil energi dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik.
Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.
Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminium, kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET, botol kaca, kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa didaur ulang. Daur ulang dari produk yang kompleks seperti komputer atau mobil lebih susah, karena bagian-bagiannya harus diurai dan dikelompokkan menurut jenis bahannya.
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan "pencegahan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tisu), dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman
Sabtu, 07 September 2019
Pengolahan Air Limbah 1
Air Limbah
Pengolahan air limbah adalah suatu proses yang dijalankan untuk menghilangkan atau membersihkan limbah (effluent) atau limbah hasil kegiatan industri, komersial atau rumah tangga dari air sehingga air dapat dimanfaatkan kembali oleh lingkungan tanpa memberikan dampak negatif ataupun dapat digunakan kembali dalam proses industri, komersial dan rumah tangga tersebut. Kegiatan pengolahan ini dilakukan dalam 3 atau lebih tahapan yang spesifik, tergantung pada komposisi dan tingkat limbah yang terkandung dalam air limbah.
Pengolahan Awal atau Pra Pengolahan
Tujuan dari proses pengolahan awal ialah untuk membuang material dan bahan-bahan yang kasar dan padat yang ditemukan pada effluent air limbah mentah. Pembuangan bahan-bahan ini diperlukan untuk meningkatkan efektivitas kegiatan operasional dan meminimalisir usaha yang dilakukan dalam merawat dan memperbaiki peralatan yang digunakan dalam tahapan pengolahan selanjutnya. Kegiatan pengolahan awal ini umumnya meliputi penyaringan bahan kasar (coarse screening), pembuangan kotoran (grit removal), dan, dalam beberapa kasus, kominusi atau pengurangan ukuran (comminution) material limbah yang berukuran besar.
Pengolahan Primer
Tujuan dari proses pengolahan primer ialah untuk membuang bahan-bahan padat, baik yang organik maupun anorganik, dengan teknik sedimentasi, serta untuk membuang bahan-bahan yang terapung dalam limbah dengan teknik skimming. Kira-kira sebanyak 25%-50% Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand - BOD5), 50%-70& dari padatan tersuspensi total (total suspended solids), dan 65% dari minyak dan gris (grease) yang ada dalam air limbah akan dibuang dalam proses pengolahan primer. Beberapa zat yang berasal dari makhluk hidup, seperti nitrogen dan fosfor, serta logam berat yang tergolong dalam benda padat juga turut dibuang dalam proses sedimentasi primer. Namun, zat koloid sisa dan bahan-bahan terlarut lainnya tidak terpengaruh oleh proses ini.
Pengolahan Sekunder
Tujuan dari proses pengolahan sekunder setelah menerima effluent dari proses pengolahan primer adalah membuang bahan organik dan bahan padat tersuspensi lainnya yang masih tertinggal. Tahapan ini meliputi pembuangan bahan organik koloid dan terlarut yang dapat terdegradasi secara biologis (biodegradable) dengan menggunakan proses pengolahan biologis secara aerobik. Pengolahan biologis aerobik ini terjadi saat ada bakteri aerobik yang menggunakan oksigen untuk mengubah bahan organik yang ada di dalam air limbah menjadi energi (proses metabolisme), sehingga dapat menghasilkan lebih banyak mikroorganisme dan bahan anorganik sebagai hasil akhir (yang paling utama ialah CO2, NH3, dan H2O).
Dalam suatu kondisi di mana terdapat konsentrasi tinggi kebutuhan oksigen kimia (chemical oxygen demand - COD), misalnya > 3.000 ppm, proses pencernaan secara anaerobik lebih umum digunakan dalam proses pengolahan sekunder. Dalam proses pencernaan ini, bakteri anaerobik dan fakultatif mengubah bahan organik yang ada di dalam lumpur limbah (sludge) menjadi energi (proses metabolisme), sehingga akan mengurangi volume pembuangan akhir, menstabilkan limbah, dan meningkatkan sifat pengeringannya (dewatering). Proses tersebut dilakukan dalam tangki tertutup (disebut juga anaerobic digesters) sedalam 7 sampai 14 m. Waktu yang diperlukan bakteri dalam tangki tersebut berbeda-beda, dari 1 hari hingga 60 hari atau lebih dihitung dalam standard-rate digesters. Gas yang dihasilkan selama proses ini memiliki kandungan metana sebesar 60 hingga 65% dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi.
Pengolahan Tersier
Pengolahan tersier merupakan pengolahan tambahan yang dilakukan setelah pengolahan sekunder. Proses ini membuang lebih dari 99% zat lain (impurities) dalam air limbah, sehingga menghasilkan air hasil limbah yang paling baik kualitasnya. Teknologi yang digunakan dalam proses ini sangatlah mahal dan membutuhkan operator pabrik pengolahan yang berpengalaman dan berpengetahuan teknis yang mumpuni.
Pengeringan
Bahan-bahan padat-biologis (bio-solids) yang diperoleh dari proses pengolahan limbah harus dikeringkan untuk mengurangi volumenya serta mengefisiensikan biaya pembuangan. Seperti yang diperlukan dalam proses pengolahan, limbah (sludge) tersebut dapat dibuang untuk kemudian diolah kembali melalui unit pengering seperti belt filter presses dan centrifuges. Bahan kimia lainnya juga dapat digunakan untuk menjamin kandungan kelembapan pada cake (lumpur dengan konsentrasi padatan yang tinggi) berada pada titik terendah.
Tim teknik Lautan Luas bekerja sama secara intens dengan para pelanggan untuk mengidentifikasi bahan kimia yang paling cocok serta mengoptimalkan kadar dosisnya sehingga biaya proses yang paling rendah dapat tercapai.
Defoamers
Mengurangi jumlah busa.
Pengolahan air limbah adalah suatu proses yang dijalankan untuk menghilangkan atau membersihkan limbah (effluent) atau limbah hasil kegiatan industri, komersial atau rumah tangga dari air sehingga air dapat dimanfaatkan kembali oleh lingkungan tanpa memberikan dampak negatif ataupun dapat digunakan kembali dalam proses industri, komersial dan rumah tangga tersebut. Kegiatan pengolahan ini dilakukan dalam 3 atau lebih tahapan yang spesifik, tergantung pada komposisi dan tingkat limbah yang terkandung dalam air limbah.
Pengolahan Awal atau Pra Pengolahan
Tujuan dari proses pengolahan awal ialah untuk membuang material dan bahan-bahan yang kasar dan padat yang ditemukan pada effluent air limbah mentah. Pembuangan bahan-bahan ini diperlukan untuk meningkatkan efektivitas kegiatan operasional dan meminimalisir usaha yang dilakukan dalam merawat dan memperbaiki peralatan yang digunakan dalam tahapan pengolahan selanjutnya. Kegiatan pengolahan awal ini umumnya meliputi penyaringan bahan kasar (coarse screening), pembuangan kotoran (grit removal), dan, dalam beberapa kasus, kominusi atau pengurangan ukuran (comminution) material limbah yang berukuran besar.
Pengolahan Primer
Tujuan dari proses pengolahan primer ialah untuk membuang bahan-bahan padat, baik yang organik maupun anorganik, dengan teknik sedimentasi, serta untuk membuang bahan-bahan yang terapung dalam limbah dengan teknik skimming. Kira-kira sebanyak 25%-50% Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand - BOD5), 50%-70& dari padatan tersuspensi total (total suspended solids), dan 65% dari minyak dan gris (grease) yang ada dalam air limbah akan dibuang dalam proses pengolahan primer. Beberapa zat yang berasal dari makhluk hidup, seperti nitrogen dan fosfor, serta logam berat yang tergolong dalam benda padat juga turut dibuang dalam proses sedimentasi primer. Namun, zat koloid sisa dan bahan-bahan terlarut lainnya tidak terpengaruh oleh proses ini.
Pengolahan Sekunder
Tujuan dari proses pengolahan sekunder setelah menerima effluent dari proses pengolahan primer adalah membuang bahan organik dan bahan padat tersuspensi lainnya yang masih tertinggal. Tahapan ini meliputi pembuangan bahan organik koloid dan terlarut yang dapat terdegradasi secara biologis (biodegradable) dengan menggunakan proses pengolahan biologis secara aerobik. Pengolahan biologis aerobik ini terjadi saat ada bakteri aerobik yang menggunakan oksigen untuk mengubah bahan organik yang ada di dalam air limbah menjadi energi (proses metabolisme), sehingga dapat menghasilkan lebih banyak mikroorganisme dan bahan anorganik sebagai hasil akhir (yang paling utama ialah CO2, NH3, dan H2O).
Dalam suatu kondisi di mana terdapat konsentrasi tinggi kebutuhan oksigen kimia (chemical oxygen demand - COD), misalnya > 3.000 ppm, proses pencernaan secara anaerobik lebih umum digunakan dalam proses pengolahan sekunder. Dalam proses pencernaan ini, bakteri anaerobik dan fakultatif mengubah bahan organik yang ada di dalam lumpur limbah (sludge) menjadi energi (proses metabolisme), sehingga akan mengurangi volume pembuangan akhir, menstabilkan limbah, dan meningkatkan sifat pengeringannya (dewatering). Proses tersebut dilakukan dalam tangki tertutup (disebut juga anaerobic digesters) sedalam 7 sampai 14 m. Waktu yang diperlukan bakteri dalam tangki tersebut berbeda-beda, dari 1 hari hingga 60 hari atau lebih dihitung dalam standard-rate digesters. Gas yang dihasilkan selama proses ini memiliki kandungan metana sebesar 60 hingga 65% dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi.
Pengolahan Tersier
Pengolahan tersier merupakan pengolahan tambahan yang dilakukan setelah pengolahan sekunder. Proses ini membuang lebih dari 99% zat lain (impurities) dalam air limbah, sehingga menghasilkan air hasil limbah yang paling baik kualitasnya. Teknologi yang digunakan dalam proses ini sangatlah mahal dan membutuhkan operator pabrik pengolahan yang berpengalaman dan berpengetahuan teknis yang mumpuni.
Pengeringan
Bahan-bahan padat-biologis (bio-solids) yang diperoleh dari proses pengolahan limbah harus dikeringkan untuk mengurangi volumenya serta mengefisiensikan biaya pembuangan. Seperti yang diperlukan dalam proses pengolahan, limbah (sludge) tersebut dapat dibuang untuk kemudian diolah kembali melalui unit pengering seperti belt filter presses dan centrifuges. Bahan kimia lainnya juga dapat digunakan untuk menjamin kandungan kelembapan pada cake (lumpur dengan konsentrasi padatan yang tinggi) berada pada titik terendah.
Tim teknik Lautan Luas bekerja sama secara intens dengan para pelanggan untuk mengidentifikasi bahan kimia yang paling cocok serta mengoptimalkan kadar dosisnya sehingga biaya proses yang paling rendah dapat tercapai.
Defoamers
Mengurangi jumlah busa.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
MAKALAH PENGELOLAAN LABORATORIUM “SOP LABORATORIUM” DOSEN PENGAMPU : RAHMA DANI,S.Pd.,M.Pd DISUSUN OLEH: KELOMPOK ...
-
MAKALAH STRATEGI BELAJAR MENGAJAR FISIKA “MODEL PBL (PROBLEM BASED LEARNING)” Do...
-
Gambar (1)Hasil Pengukuran menggunakan lux saat belajar Gambar (2) dan (3) menggambarkan keadaan cahaya yang menerangi ruangan saat sedan...


